Perubahan Iklim Picu Risiko Banjir, Unhas Belajar dari Jepang
- 16 Sep 2026 19:23 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Perubahan Iklim menjadi salah satu persoalan yang semakin membutuhkan perhatian karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat. Isu tersebut dibahas Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama pakar dari Jepang, Prof. Dr.Eng. Akira Tai dari Fukuoka Institute of Technology.
Melalui kuliah tamu bertajuk “Climate Change and Increasing Flood Risks: Challenges and Adaptation”, Unhas mempertemukan akademisi, mahasiswa, peneliti dan peserta dari berbagai bidang. “Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim,” kata Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Sukri Palutturi, Rabu, 16 September 2026.
Menurut Prof. Sukri, Perubahan Iklim merupakan tantangan yang memiliki dampak luas dan saling berkaitan. Ia menyebut persoalan tersebut dapat berpengaruh terhadap lingkungan, kesehatan, keselamatan, infrastruktur, perekonomian hingga kesejahteraan masyarakat. “Melalui kegiatan ini, kita berharap muncul gagasan dan kolaborasi baru untuk mengembangkan pendekatan adaptasi yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan,” ungkap Prof. Sukri. Pernyataan tersebut menjadi salah satu penekanan Unhas dalam melihat adaptasi iklim bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Dalam pemaparannya, Prof. Akira Tai menjelaskan adanya keterkaitan antara Perubahan Iklim, cuaca ekstrem dan peningkatan risiko banjir. Perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu global, pertumbuhan kawasan perkotaan serta perubahan penggunaan lahan disebut dapat membuat suatu wilayah semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
Pengalaman Jepang dalam menghadapi banjir turut menjadi bagian penting dalam pembahasan kuliah tamu tersebut. “Penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik,” jelas Prof. Akira Tai, yang menekankan perlunya dukungan berbagai instrumen untuk menghadapi risiko bencana.
Menurut Prof. Akira Tai, data ilmiah dan pemodelan risiko dibutuhkan agar potensi bahaya dapat dipahami dengan lebih baik sebelum menjadi bencana. Sistem peringatan dini, perencanaan tata ruang, kesiapsiagaan masyarakat dan tata kelola yang terintegrasi juga menjadi bagian dari pendekatan yang perlu diperkuat.
Ia menilai strategi adaptasi terhadap Perubahan Iklim tidak bisa diterapkan dengan pola yang sama di setiap daerah. “Pendekatan adaptasi perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah, termasuk kondisi geografis, sosial, lingkungan, dan kapasitas kelembagaan,” ujarnya.
Karena itu, hasil penelitian dinilai perlu bergerak lebih jauh dari sekadar menjadi dokumen akademik. “Hasil penelitian juga perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata untuk mengurangi risiko serta melindungi kelompok rentan,” kata Prof. Akira Tai.
Diskusi yang dimoderatori Evi Aprianti berlangsung interaktif dengan melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti dan peserta dari berbagai disiplin ilmu. “Diskusi membahas pengelolaan sumber daya air, infrastruktur tangguh, teknologi, serta strategi adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal,” demikian fokus pembahasan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antara akademisi Unhas dan Jepang dalam melihat ancaman banjir di tengah perubahan kondisi iklim. “Perguruan tinggi memiliki peran strategis” untuk memperkuat ketahanan masyarakat, sehingga pengetahuan, teknologi dan kebijakan dapat berjalan beriringan dalam menghadapi risiko yang semakin kompleks.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....