Guru Besar KGI Rumuskan Agenda Transformasi Kedokteran Gigi

  • 08 Agt 2026 18:44 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kemajuan teknologi digital terus mengubah wajah pendidikan kedokteran gigi. Di saat yang sama, Indonesia masih dihadapkan pada persoalan klasik, seperti ketimpangan akses layanan kesehatan gigi, distribusi tenaga medis yang belum merata, hingga pemanfaatan hasil riset yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Tantangan tersebut menjadi fokus pembahasan dalam sesi panel ilmiah Kongres Nasional Perdana Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI).

Diskusi panel ini menghadir tiga narasumber, yaitu:

  1. Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad., dari Universitas Padjajaran (Unpad) Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,
  2. ⁠Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. Ketua AFDOKGI dari Universitas Gadjah Mada.
  3. Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BMMf., Subsp.Ortognat.D., Ketua MGBKGI dari Universitas Hasanuddin.

Diskusi panel ini dipandu oleh Prof. Dr drg Yulita Hendrartini. MKes, FISDPH, FISPD dari Universitas Gadjah Mada. Dalam paparannya Prof. Tri Hanggono Achmad menjelaskan bahwa pendidikan tinggi kesehatan perlu berorientasi pada peningkatan akses, mutu, relevansi, dan dampak. Keempat aspek tersebut selaras dengan arah pembangunan nasional yang mendorong lahirnya tenaga kesehatan berkualitas sekaligus mempercepat hilirisasi riset untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan.

“Institusi pendidikan memiliki peran penting dalam mempercepat inovasi kesehatan melalui penguatan transfer teknologi, pengembangan clinical research, serta riset yang relevan dengan kebutuhan kesehatan Indonesia,” kata Prof. Hanggodo, Jumat, 7 Agustus 2026.

Perspektif lain disampaikan Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., yang mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan. Universitas harus hadir sebagai penyelesai persoalan bangsa, sementara akademisi dituntut aktif menawarkan solusi, bukan sekadar mengamati berbagai tantangan.

Sejumlah persoalan yang masih dihadapi sektor kesehatan, khususnya kesehatan gigi. Distribusi dokter gigi dan dokter gigi spesialis belum merata, akses pelayanan terbatas akibat faktor pembiayaan dan kondisi geografis, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Selain itu, standar sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan belum sepenuhnya merata, sementara sebagian besar material dan peralatan kedokteran gigi masih bergantung pada produk impor.

“Perkembangan teknologi juga membuka peluang baru. Adaptasi terhadap kecerdasan artifisial, teknologi 3D printing, dan teledentistry perlu masuk dalam pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran gigi agar lulusan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan layanan kesehatan modern,” kata Prof. Suryono.

Ketua MGBKGI, Prof. Muhammad Ruslin, memandang guru besar memiliki tanggung jawab strategis dalam meningkatkan nilai sivitas akademika. Peran tersebut dapat dijalankan melalui pembinaan dosen muda menuju publikasi ilmiah dan paten, pembukaan jejaring riset internasional bagi mahasiswa, serta penguatan budaya research-to-impact di lingkungan departemen. Guru besar juga berperan memperluas internasionalisasi perguruan tinggi melalui peningkatan visibilitas publikasi ilmiah, program visiting professorship, dan kolaborasi riset lintas negara.

"Guru besar adalah pemimpin di era digital. Di tengah disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus mampu menghadirkan ruang yang mendorong sivitas akademika terus berinovasi. Forum MGBKGI membuka peluang memperluas kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai mitra strategis," kata Prof. Ruslin.

Guru besar tidak hanya merepresentasikan capaian akademik tertinggi. Di balik gelar tersebut melekat tanggung jawab mengarahkan hilirisasi riset, memperkuat internasionalisasi, serta menjaga profesionalisme dalam pengembangan pendidikan tinggi.

Rangkaian diskusi memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan kedokteran gigi tidak cukup bertumpu pada kemajuan teknologi. Penguatan sumber daya manusia, kolaborasi lintas sektor, hilirisasi riset, serta pemerataan akses layanan kesehatan tetap menjadi fondasi utama agar inovasi akademik dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....