BRIN Kembangkan Teknologi Makanan Siap Saji tanpa Api untuk Dukung Jamah Haji

  • 24 Apr 2026 01:03 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, menjadi tiga titik terpadat dalam rangkaian ibadah haji, jutaan jemaah berkumpul dalam kondisi serba terbatas. Tidak ada dapur, tidak ada kompor, namun kebutuhan makan tetap harus terpenuhi. Inilah tantangan logistik yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi penyelenggara haji Indonesia, dan BRIN kini hadir dengan jawaban teknologinya.

Dilansir dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi makanan siap saji tanpa api yang dirancang khusus untuk mendukung layanan pangan jemaah haji Indonesia. Hal ini dipaparkan langsung oleh Kepala BRIN Arif Satria dalam rapat koordinasi terbatas membahas kesiapan pangan haji 2026 di Jakarta.

Teknologi ini bekerja dengan prinsip sederhana namun cerdas, makanan dapat dipanaskan hanya dengan menambahkan air dingin, tanpa memerlukan pemanas listrik maupun api. Sistem pemanasnya memanfaatkan reaksi kimia eksotermik dari bahan-bahan seperti zeolit dan kapur, material yang aman, mudah dibawa, dan tidak memerlukan sumber energi eksternal. Arif sendiri mengaku telah mencicipi makanan yang disiapkan dengan teknologi ini dan menilai hasilnya cukup panas untuk dinikmati.

Inovasi ini bukan yang pertama dari BRIN di bidang teknologi pangan. Sebelumnya, lembaga riset nasional ini telah mengembangkan sistem pengemasan makanan dalam kaleng serta pengemasan fleksibel yang mampu menampung produk berkuah seperti daging bersantan atau berkuah, jenis makanan yang akrab di lidah jemaah Indonesia. Teknologi pemanas tanpa api merupakan lapisan inovasi terbaru yang menurut Arif akan terus menjadi fokus pengembangan ke depan.

Dukungan politik juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang mengapresiasi kontribusi BRIN dalam memperpanjang masa simpan produk pangan sebelum masuk tahap distribusi. Zulhas memastikan ketersediaan pangan bagi jemaah haji Indonesia dalam kondisi aman, bahkan di tengah dinamika geopolitik global yang belakangan membayangi rantai pasok internasional.

Satu hal yang ditegaskan pemerintah, produk makanan ini diperuntukkan khusus bagi konsumsi jemaah haji Indonesia, bukan untuk diedarkan di pasar Arab Saudi. Setiap produk tetap harus memenuhi standar halal dan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum dapat dikirimkan.

Jika inovasi ini berhasil diterapkan penuh pada musim haji 2026, lebih dari 200 ribu jemaah Indonesia bisa menikmati sajian hangat di tengah terik Arafah tanpa kompor, tanpa api, hanya dengan setetes air dingin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....