Inovasi Ensilase Dorong Ketahanan Produksi Ternak di Sulsel

  • 14 Apr 2026 21:01 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Program Kiprah Sulsel edisi Selasa, 14 April 2026 di PRO1 RRI Makassar menyoroti terobosan penting dalam dunia peternakan melalui pemanfaatan limbah pertanian. Fokus utama dalam episode kali ini adalah teknologi ensilase, sebuah metode pengawetan pakan hijau yang dinilai menjadi solusi jitu bagi peternak lokal di Sulawesi Selatan untuk menghadapi fluktuasi ketersediaan pakan sepanjang tahun.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Nunung Akhirany, S.Pt., M.Si selaku Pengawas Mutu Pakan Ahli Madya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan, menjelaskan bahwa melimpahnya limbah pertanian seperti tebon jagung dan jerami padi sering kali belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui proses fermentasi anaerob dalam ensilase, limbah yang semula dianggap sampah dapat diubah menjadi pakan bergizi tinggi yang tahan disimpan dalam jangka waktu lama.

"Ensilase ini bukan sekadar pengawetan, melainkan proses peningkatan kualitas. Limbah pertanian yang biasanya keras dan sulit dicerna, setelah melalui proses fermentasi selama kurang lebih 21 hari, akan memiliki tekstur yang lebih lunak dan aroma yang disukai ternak," ujar Dr. Nunung Akhirany dalam dialog yang dipandu oleh penyiar Risna Supratio.

Dr. Nunung menekankan bahwa keunggulan utama dari inovasi ini adalah kemampuannya menjaga kestabilan nutrisi pakan meskipun disimpan berbulan-bulan. Hal ini sangat krusial bagi peternak di Sulawesi Selatan, terutama saat memasuki musim kemarau di mana rumput segar sulit didapat. Dengan stok silase yang mencukupi, peternak tidak perlu lagi khawatir akan penurunan bobot badan ternak akibat kekurangan asupan nutrisi.

Lebih lanjut, dalam program tersebut diungkapkan bahwa teknik ensilase cukup sederhana dan bisa dilakukan secara mandiri oleh peternak skala kecil. Bahan-bahan yang dibutuhkan hanya berupa limbah pertanian, bahan tambahan seperti dedak atau tetes tebu sebagai stimulan fermentasi, serta wadah kedap udara atau silo. Kemudahan teknis ini diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi di berbagai sentra peternakan di wilayah Sulsel.

"Tantangan kita selama ini adalah ketergantungan pada musim. Kami mendorong para peternak untuk mulai melirik limbah di sekitar mereka. Dengan teknologi ensilase ini, kita sebenarnya sedang membangun bank pakan mandiri di tingkat peternak, sehingga ketahanan pangan hewani di daerah kita nanti bisa semakin kokoh," tambah Dr. Nunung.

Dr.Nunung menggaris bawahi pentingnya sinergi antara pemerintah dan peternak dalam mendiseminasikan inovasi ini. “Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan teknis agar standar mutu pakan di tingkat lapangan tetap terjaga, sekaligus memastikan kesejahteraan peternak meningkat melalui efisiensi biaya pakan yang lebih ekonomis,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....