Dua Jemaah Difabel Sinjai Istitha’ah, Dapat Pendampingan Khusus ke Tanah Suci
- 03 Mei 2026 23:38 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Semangat menunaikan rukun Islam kelima tak surut meski dihadapkan pada keterbatasan fisik. Dua jemaah calon haji (JCH) difabel asal Kabupaten Sinjai menjadi bukti bahwa tekad dan dukungan yang tepat mampu mengantarkan siapa pun menuju Tanah Suci.
Keduanya tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Asrama Haji Sudiang, yakni Saifuddin HM Abd Muin Saideng yang merupakan penyandang tunanetra, serta Kasma Muskin Nusi, seorang penyandang tuna daksa akibat amputasi kaki. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Sinjai, Kamriati Anis, menjelaskan bahwa dari total 44 jemaah yang diberangkatkan dalam kloter tersebut, dua di antaranya merupakan jemaah difabel yang mendapatkan perhatian dan pendampingan khusus.
“Di Kabupaten Sinjai ada dua jemaah difabel, satu tunanetra dan satu amputasi kaki. Keduanya kami berangkatkan dengan skema pendampingan khusus,” ujarnya saat ditemui di Asrama Haji Sudiang, Sabtu 2 Mei 2026.
Kisah Kasma Muskin Nusi menjadi salah satu potret perjuangan panjang untuk memenuhi syarat istitha’ah atau kemampuan berhaji. Ia sempat tertunda keberangkatannya karena kondisi kesehatan yang belum memungkinkan. Bahkan pada 2025, kondisi kesehatannya memburuk hingga harus menjalani amputasi kaki. Sebelumnya, pada musim haji 2024, sang suami telah lebih dahulu berangkat ke Tanah Suci.
Namun harapan tak pupus. Setelah menjalani pemantauan dan pemeriksaan kesehatan secara intensif selama satu tahun pascaamputasi, Kasma akhirnya dinyatakan layak berangkat dengan status istitha’ah pendampingan. “Alhamdulillah tahun 2026 ini, setelah rutin pemeriksaan kesehatan, beliau bisa berangkat dengan pendampingan,” kata Kamriati.
Pendampingan tersebut mencakup tiga aspek utama: obat, alat bantu, dan pendamping orang. Dalam hal ini, anggota keluarga menjadi pendamping utama untuk memastikan kebutuhan jemaah terpenuhi selama proses ibadah.
Sementara itu, Saifuddin yang merupakan penyandang tunanetra memiliki latar belakang berbeda. Ia sebelumnya berdomisili di Nusa Tenggara Barat sebelum melakukan mutasi administrasi ke Kabupaten Sinjai.
Setelah seluruh berkas administrasi dinyatakan lengkap, Saifuddin mengikuti rangkaian manasik haji di Sinjai. Dari hasil pengamatan petugas, kondisi fisiknya dinilai cukup kuat untuk menjalankan ibadah.
“Dia ikut manasik dengan baik. Secara fisik juga kuat, apalagi didampingi keluarganya,” jelas Kamriati.
Untuk Saifuddin, pendampingan lebih difokuskan pada bantuan dari keluarga tanpa penggunaan alat bantu khusus seperti kursi roda. Meski demikian, pihak Kemenhaj tetap mengantisipasi kemungkinan kebutuhan tambahan selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
Kakan Kemenhaj dan Umrah Kabupaten Sinjai menegaskan bahwa pelayanan terhadap jemaah difabel menjadi prioritas. Petugas haji, termasuk ketua kloter, diminta memberikan perhatian lebih agar para jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Kamriati bahkan secara khusus menitipkan pesan kepada ketua kloter agar kedua jemaah difabel tersebut mendapatkan pelayanan utama. “Jangan sampai diabaikan. Justru mereka harus menjadi prioritas untuk dibantu dan diberi motivasi di setiap tahapan ibadah,” tegasnya.
Pendekatan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan haji yang inklusif dan humanis. Tidak hanya memastikan keberangkatan, tetapi juga menjamin setiap jemaah termasuk difabel dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan bermartabat.
Di tengah jutaan umat Islam dari seluruh dunia yang berhimpun di Tanah Suci, kisah dua jemaah asal Sinjai ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih panggilan Ilahi. Dengan dukungan keluarga dan negara, harapan itu tetap menyala hingga ke Baitullah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....