Erick Alamsyah: Dunia Radio Tak Cukup Hanya Bermodal Suara

  • 17 Sep 2026 09:25 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Menjadi penyiar radio bukan sekadar pekerjaan, tetapi dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup dan passion. Hal itu dirasakan Erick Alamsyah, seorang penyiar radio sekaligus MC kondang di Makassar, yang telah menekuni dunia penyiaran sejak masih duduk di bangku SMP.

Dalam program OBSESI “Ngobrol Seru Siang Ini Bersama Erick Alamsyah” RRI Makassar, Rabu, 16 September 2026, Erick berbagi cerita tentang perjalanan panjangnya di dunia radio kepada host Arfan Yusri. Bertepatan dengan momentum HUT ke-81 RRI, perbincangan tersebut turut membahas perkembangan profesi penyiar dan tantangan industri penyiaran saat ini.

Erick mengatakan, dunia radio memberinya banyak pengalaman sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan publik. Menurutnya, profesi penyiar memiliki keterkaitan erat dengan pekerjaan sebagai MC karena sama-sama membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan audiens. “Penyiar ini memang sudah menjadi passion saya dan sudah dua puluh tahunan lebih saya menjalaninya. Dari SMP saya sudah masuk ke dunia ini dan ternyata dunia radio memberikan banyak akses serta pengalaman tentunya hingga saat ini,” ungkap Erick.

Namun, perkembangan teknologi turut mengubah wajah industri penyiaran. Profesi penyiar saat ini tidak selalu menjadi pekerjaan utama dan bahkan kerap dianggap sebagai side job. Kondisi tersebut, menurut Erick, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas, terutama bagi penyiar muda. Penyiar tidak cukup hanya memiliki suara yang bagus atau mampu membaca naskah, tetapi juga harus mempunyai wawasan dan literasi yang baik agar informasi yang disampaikan kepada pendengar dapat dipahami secara tepat.

“Penyiar sekarang harus punya literasi. Jangan hanya sekadar membaca apa yang ada di depan mata, tetapi harus tahu dan menyaring informasi sebelum disampaikan kepada pendengar,” tegasnya. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten.

Erick juga menyoroti tantangan yang dihadapi bisnis radio, mulai dari pajak, biaya operasional hingga persaingan antarmedia yang semakin ketat. Ia menilai pengelolaan dan efisiensi menjadi faktor penting agar sebuah radio tetap dapat bertahan. Pengalamannya di Radio Venus menjadi salah satu contoh bagaimana manajemen melakukan berbagai upaya efisiensi untuk menghadapi tantangan industri.

Meski telah puluhan tahun berada di balik mikrofon, Erick mengaku tidak merasa bosan. Baginya, konsistensi menjadi salah satu kunci untuk bertahan di dunia penyiaran. Ia juga berusaha memisahkan profesi penyiar dengan pekerjaannya sebagai MC. “Yang paling penting adalah konsistensi. Selama kita masih punya passion disitu, pasti kita akan tetap menikmati pekerjaan ini dan tidak akan merasa bosan,” tuturnya.

Di akhir dialog, Erick menyampaikan harapannya agar RRI terus menjadi ruang kreatif yang dekat dengan masyarakat. Ia mengusulkan agar area luar RRI dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang lebih estetik, misalnya dengan konsep kafe atau pertunjukan musik langsung. Ia juga berharap para penyiar RRI terus melahirkan kreativitas dan memberikan dampak positif bagi pendengar. “Penyiar RRI harus tetap kreatif, karena yang paling penting bukan hanya hadir mengudara, tetapi bagaimana kehadiran itu bisa memberikan manfaat bagi pendengar,” pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....