Kenaikan Harga Bahan Baku Jadi Tantangan bagi Pelaku UMKM Kuliner
- 16 Agt 2026 19:53 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pelaku UMKM kuliner saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama terkait kenaikan harga bahan baku yang kerap terjadi pada periode tertentu, seperti menjelang hari raya. Kondisi tersebut menuntut pelaku usaha untuk mampu menyusun strategi agar kualitas produk tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kepuasan pelanggan.
Nana Lukita Sari - Owner Brand NaluriHomemade dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar edisi Sabtu, 15 Agustus 2026. Mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku seperti mentega, susu, dan cokelat merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, setiap terjadi perubahan harga di pasaran, Ia selalu melakukan perhitungan ulang terhadap harga pokok produksi (HPP).
Menurutnya, kenaikan harga tidak selalu diikuti dengan penyesuaian harga jual. Selama HPP masih memungkinkan, harga produk akan tetap dipertahankan. Namun, jika biaya produksi sudah tidak lagi sesuai, maka penyesuaian harga menjadi langkah yang harus dilakukan. "Saya selalu mengecek kembali HPP berdasarkan harga bahan baku terbaru. Jika masih memungkinkan, harga tidak akan dinaikkan. Namun, jika sudah tidak sesuai, tentu harus ada penyesuaian," ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap perubahan harga selalu disampaikan kepada pelanggan melalui media promosi, seperti katalog atau flayer yang berisi daftar harga terbaru. Dengan cara tersebut, pelanggan dapat mengetahui produk mana yang mengalami kenaikan harga dan produk mana yang tetap dipertahankan. “Transparansi menjadi prinsip yang selalu dijaga dalam menjalankan usaha. Ketika pelanggan mempertanyakan perbedaan harga, saya selalu memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut”, kata Nana.
Meski kenaikan harga berpotensi mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, Nana menegaskan bahwa kualitas produk tetap menjadi prioritas utama. Ia tidak memilih bahan baku yang lebih murah hanya untuk mempertahankan harga jual. Menurutnya, menurunkan kualitas produk justru dapat mengecewakan pelanggan, terutama pelanggan yang selama ini melakukan pembelian secara berulang. Sebagai alternatif, Ia memilih menghadirkan varian produk baru dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, sejak awal pelanggan diberikan informasi bahwa produk tersebut memiliki ukuran, harga, atau karakteristik yang berbeda.
"Saya selalu menjelaskan kepada pelanggan bahwa perbedaan harga tentu akan diikuti dengan perbedaan produk. Dengan begitu, mereka dapat menentukan pilihan sesuai kebutuhan”, jelas Nana.
Menariknya, selama menjalankan usaha, ia mengaku jarang menghadapi pelanggan yang menawar harga. Sebagian besar konsumen justru lebih mempertimbangkan cita rasa dibandingkan harga produk. “Jika ada pelanggan yang memiliki keterbatasan anggaran, solusi yang ditawarkan bukanlah menurunkan harga, melainkan menyesuaikan ukuran produk. Sebagai contoh, ukuran roti dapat dibuat lebih kecil tanpa mengubah kualitas maupun cita rasanya”, ucap Nana.
Seluruh penyesuaian tersebut selalu dikomunikasikan sebelum transaksi dilakukan. Menurutnya, komunikasi yang baik dapat menciptakan kenyamanan bagi kedua belah pihak serta menghindari kesalahpahaman. Selain menghadapi tantangan kenaikan harga, pelaku UMKM juga dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan tren kuliner yang berubah dengan sangat cepat. Namun, Nana menilai bahwa mengikuti tren tidak berarti harus mengabaikan identitas produk yang telah dibangun. “Memahami target pasar merupakan kunci utama dalam menjaga identitas produk. Tidak semua tren harus diikuti, terutama jika produk tersebut tidak sejalan dengan karakter usaha yang telah dibangun”, terang Nana.
Di balik berbagai pencapaian tersebut, Ia mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya persoalan modal, melainkan kemampuan dalam mengatur waktu. Sebagai pelaku usaha, ia harus mampu membagi waktu antara kegiatan produksi, promosi, pengembangan usaha, dan pengelolaan media sosial. Karena itu, Ia menerapkan strategi manajemen waktu dengan menyelesaikan proses produksi terlebih dahulu, kemudian melanjutkannya dengan pembuatan konten promosi.
Meski berbagai tantangan terus bermunculan, Ia tetap optimistis dalam mengembangkan usahanya. Baginya, pertumbuhan usaha tidak harus dilakukan secara instan, melainkan dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. "Bismillah, semua dijalani secara bertahap. Target-target kecil harus dicapai terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap yang lebih besar”, tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....