Membangun Identitas Fashion Muslim Melalui Kekuatan Asosiasi

  • 05 Mei 2026 19:04 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dunia kewirausahaan fashion atau fashionpreneur bukan sekadar tentang estetika pakaian, melainkan sebuah perjalanan panjang dalam menemukan identitas dan nilai tambah sebuah produk. Hal ini terungkap dalam dialog "Teras UMKM" yang menghadirkan Lily Gunawan, seorang desainer fashion sekaligus Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) Makassar, sebagai narasumber di Programa 4 RRI Makassar pada Selasa, 5 Mei 2026.

Dalam sesi berbagi tersebut, Lily menceritakan transformasinya dari seorang lulusan Teknik Informatika hingga terjun dalam industri fashion di Sulawesi Selatan. Perjalanan bisnis Lily dimulai pada tahun 2012 dengan mendirikan Santri Butik, sebuah nama yang dipilih secara strategis untuk menegaskan segmentasi pasarnya.

"Nama Santri adalah strategi branding instan kami. Lewat satu kata tersebut, publik langsung memahami bahwa fokus kami adalah busana muslim berkualitas tanpa perlu penjelasan panjang lebar lagi." Ujar Lily Gunawan, Owner Santri Butik.

Kini, usaha tersebut telah berkembang pesat dengan payung brand Santri Muslimwear, serta layanan Santri Custom yang melayani pembuatan busana pernikahan dan pesta muslimah secara eksklusif.

Sebelum menemukan titik terang di dunia fashion, Lily mengaku sempat menjajal peruntungan di bidang kuliner. Meski berhasil membangun brand kue kecil-kecilan, ia merasa ada ketidakcocokan antara minat dan aktivitas kesehariannya. " Saya ini Orang Sunda ( Suka dandan), Sebagai perempuan yang hobi berdandan, saya merasa ada yang kurang pas jika harus menghabiskan seluruh waktu di dapur. Kesadaran bahwa passion saya bukan di sana lah yang akhirnya memantapkan langkah saya untuk beralih ke dunia mode." Ucap Lily Gunawan disertai dengan canda.

Dimulai dengan menjadi reseller pakaian yang ia beli dari Tanah Abang, Jakarta, untuk dijual kembali di Makassar pada tahun 2010.Tantangan besar muncul ketika ia menghadapi fenomena perang harga di pasar lokal. Lily seringkali menemukan produk yang identik dengan miliknya dijual jauh lebih murah oleh pedagang lain, sehingga ia kehilangan daya tawar. Kondisi sulit ini memaksanya untuk memutar otak dan mulai memberikan nilai tambah melalui kreativitas. Ia mulai memodifikasi produk yang dibelinya dengan menambahkan aksesoris atau detail baru, sehingga produk tersebut memiliki keunikan tersendiri dan dapat dijual dengan harga yang lebih kompetitif.

Rasa penasaran yang tinggi mendorong Lily untuk terus mendalami ilmu tata busana secara formal, meski ia bukan berasal dari latar belakang pendidikan tersebut. Ia mengambil berbagai kursus singkat mulai dari pembuatan pola hingga teknik menjahit, bahkan hingga saat ini ia masih menempuh pendidikan sarjana tata busana di Jakarta. "Bagi saya, pendidikan dan pengembangan diri adalah investasi utama. Dengan terus belajar, seorang desainer tidak hanya menghasilkan karya yang lebih matang, tetapi juga mampu membuka pintu jaringan yang lebih luas di industri kreatif." Ujar Lily.

Keterlibatannya dalam asosiasi seperti Indonesia Fashion Chamber (IFC) menjadi titik balik penting dalam karier profesionalnya. Lily menekankan bahwa bergabung dengan asosiasi bukan sekadar untuk memperluas pertemanan, tetapi sarana untuk mendapatkan literasi bisnis yang mendalam. Melalui organisasi, para pelaku UMKM fashion dapat belajar memprediksi tren masa depan melalui berbagai indikator pasar, sehingga produk yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan konsumen yang terus berubah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....