Pengamat Ekonomi ajak Masyarakat Bijak Kelola THR

  • 02 Mar 2026 08:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Menjelang Idul Fitri, masyarakat diingatkan untuk bijak dalam mengelola Tunjangan Hari Raya (THR). Meski THR menjadi stimulus penting bagi perekonomian, pengamat ekonomi Sutarjo Tui, saat berbincang bersama RRI lewat Dialog Interaktif Makassar menyapa pagi edisi, Senin, 2 Maret 2026 mengimbau agar dana tersebut tidak dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi sesaat.

Sutardjo Tui menyarankan agar warga Sulawesi Selatan memprioritaskan belanja pada kebutuhan pokok yakni kebutuhan akan sandang, pangan dan papan dan tidak terjebak pada keinginan yang berlebihan sehingga masyarakat memiliki bayak tabungan dari THR khususnya di bulan ramadhan ini. “Jangan dipakai untuk konsumsi semua. Ingat rumus pendapatan adalah konsumsi ditambah tabungan. Sisihkan sedikit untuk investasi atau tabungan," kata Sutarjo Tui saat berbincang bersama RRI lewat Dialog Interaktif Makassar menyapa pagi.

Lebih lanjut Sutarjo mengatakan dan menepis kekhawatiran bahwa dampak THR hanya bersifat sementara. Menurutnya, uang yang dibelanjakan masyarakat akan mengalir ke produsen dan pedagang, yang kemudian diputar kembali menjadi investasi produktif seperti pembelian lahan pertanian atau modal usaha.

“Oh tidak, tetap akan berkelanjutan karna Kalau THR tidak mungkin uang kembali hangus dan ke masyarakat uangnya, Masyarakat belanja, diterima produsen, produsen nambah dia punya omzet dan Uang jadi berputar terus hingga menghasilkan investasi, misalnya beli sawah atau motor yang disewakan, jadi akan terus Berkelanjutan karena uang itu tidak hangus, uang itu dibelanjakan dan Kalau dibelanjakan kemudian dipakai untuk yang produktif, kan nambah lagi, Kecuali kalau cuma beli makanan, tapi makanan pun kan penjual makanan juga akan menambah produksinya, butuh tenaga kerja, berputar itu luar biasa,” katanya kepada RRI.

Pengamat ekonomi dari Unismuh Makassar lebih lanjut mengatakan bahwa Meski ada risiko inflasi seiring meningkatnya permintaan, ia menilai hal tersebut masih wajar selama dibarengi dengan peningkatan produksi di berbagai sektor.

“Inflasi itu sebenarnya menunjukkan pertumbuhan Tetapi dengan catatan inflasi itu tidak boleh melebihi pertumbuhan ekonomi, Kalau satu daerah tidak punya inflasi, pasti daerah itu lambat berkembang, Kenapa? Kalau terjadi kenaikan harga, berarti ada pertumbuhan, Dia menghitung pertumbuhan ekonomi dari harga masa lampau dan harga sekarang, Kalau terjadi kenaikan harga yang dibarengi dengan pertambahan produksi, produsen akan semangat menambah produksinya,” tutupnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....