Genrang Palili’ Jadi Bagian Penting Ritual Adat Mappalili’ di Segeri
- 15 Sep 2026 09:54 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar-Genrang palili’ menjadi salah satu bagian penting dalam ritual adat Mappalili’ yang dilaksanakan masyarakat Kelurahan Bontomate’ne, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Ansambel musik tradisional ini berfungsi mengiringi berbagai prosesi dalam ritual yang berkaitan dengan harapan keselamatan dan kemakmuran masyarakat, khususnya dalam bidang pertanian.
Dilansir etnomusikologi.isi.ac.id, Mappalili’ merupakan ritual adat yang dilaksanakan menjelang masyarakat memulai kegiatan menanam padi. Salah satu bagian utamanya adalah mengarak rakkalaatau alat bajak berkeliling kampung. Masyarakat Segeri meyakini pelaksanaan Mappalili’ penting dilakukan agar kegiatan pertanian dapat berjalan dengan baik serta terhindar dari penyakit, bencana dan gangguan hama.
Dalam pelaksanaannya, genrang palili’ terdiri atas sejumlah alat musik tradisional, yakni genrang, pui’-pui’, lae-lae dan gong. Ansambel tersebut dipimpin oleh Sakka sebagai pemain gong. Selain musik, Mappalili’ juga diisi dengan sejumlah kesenian tradisional, di antaranya tari alosu dan tari ma’bissu yang dibawakan oleh para Bissu.
Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan Mappalili’ mengalami sejumlah perubahan, baik dari aspek musikal maupun nonmusikal. Perubahan tersebut dipengaruhi faktor eksternal, seperti perkembangan teknologi, globalisasi, peran pemerintah serta perubahan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Dari sisi penyelenggaraan, Mappalili’ pada masa lalu dilaksanakan oleh pihak kerajaan dan dipimpin Puang Matoa. Pelaksanaannya disebut dapat berlangsung hingga 40 hari 40 malam karena pembiayaan ditanggung Raja Segeri, kaum bangsawan dan pedagang. Sejak 1968, penyelenggaraan Mappalili’ mulai diambil alih pemerintah melalui Kecamatan Segeri. Durasi pelaksanaannya kemudian mengalami pengurangan, dari tujuh hari tujuh malam hingga menjadi tiga hari dua malam.
Perubahan juga terjadi pada unsur kepercayaan dan sejumlah prosesi. Masuknya Islam membuat kepercayaan sebagian masyarakat terhadap Dewata SeuwaE sebagai bagian dari kepercayaan lokal mulai berkurang. Selain itu, prosesi mattena sanro yang masih ditemukan dalam penelitian sebelumnya tidak lagi disajikan pada pelaksanaan Mappalili’ tahun 2021.
Pada ansambel musik, perubahan terlihat pada penggunaan instrumen. Genrang yang sebelumnya menggunakan genrang pa’bissu berwarna cokelat, kini menggunakan ganrang Makassar yang memiliki ciri warna merah. Sementara alat musik ana’ baccing dan kancing tidak lagi ditemukan dalam pelaksanaan Mappalili’ tahun 2021 karena disebut telah hilang.
Perubahan tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan genrang palili’ dan ritual Mappalili’. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah regenerasi pemain musik. Sejumlah pemain yang telah berusia lanjut dinilai perlu menurunkan pengetahuan dan pola permainan kepada generasi muda agar keterampilan bermusik dalam ritual tersebut tetap dapat diwariskan.
Selain regenerasi, dukungan pemerintah dan masyarakat sebagai pemilik kebudayaan juga dinilai penting, terutama dalam aspek pendanaan, pembinaan Bissu dan pemain musik. Pembentukan wadah komunikasi antara pemerintah dan seniman lokal serta program inventarisasi kesenian dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan Mappalili’ dan ansambel genrang palili’ di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....