Filosofi Perahu Pinisi Jadi Teladan bagi Generasi Muda di Era Modern

  • 09 Sep 2026 09:43 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Ditengah era modernisasi saat ini, nilai-nilai filosofis perahu Pinisi seperti gotong royong dan ketangguhan dapat diterapkan oleh generasi muda Sulawesi Selatan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nilai yang sangat penting adalah keharmonisan universal.

Dr. Dafirah, M.Hum. (Dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (UNHAS) dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar, mengatakan dalam proses pembuatan perahu Pinisi terdapat ritual pemotongan lunas (bagian struktural terbawah dari kapal yang membujur dari depan (haluan) ke belakang (buritan)) . Salah satu tahapannya adalah meminta izin kepada Yang Maha Kuasa ketika sebuah pohon akan ditebang.

“Manusia pada dasarnya hanyalah bagian dari ekosistem, bukan penguasanya. Segala sesuatu berada dalam kekuasaan Sang Pencipta alam semesta”, kata Dr. Dafirah. Selasa, 8 September 2026.

Dr. Dafirah menjelaskan kita dapat melihat bagaimana para panrita lopi dan masyarakat, khususnya di Bulukumba dan Bira, bekerja sama dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan. Mereka bekerja sama mulai dari mencari kayu hingga meluncurkan perahu ke laut. Filosofi tersebut seharusnya dimiliki oleh generasi saat ini. Hal itu mengingatkan kita bahwa untuk mencapai sesuatu, kita membutuhkan orang lain (bergotong royong).

“Tidak mungkin kita mendorong perahu sebesar itu seorang diri. Begitu pula ketika membawa kayu besar dari hutan, tentu diperlukan kerja sama dan gotong royong. Selain gotong royong, terdapat pula ketangguhan yang luar biasa dalam filosofi perahu Pinisi”, jelas Dr. Dafirah.

Dr. Dafirah menambahkan jika dikaitkan dengan generasi muda saat ini, nilai ketangguhan tersebut mulai menipis. Salah satu penyebabnya adalah kecenderungan untuk menginginkan segala sesuatu secara instan. Budaya serba instan dapat membuat seseorang mudah kehilangan harapan ketika mengalami kegagalan.

“Karena itu, nilai-nilai moral yang terdapat dalam filosofi kehidupan masyarakat Bugis-Makassar, termasuk filosofi Pinisi, perlu terus ditanamkan”, ucap Dr. Dafirah.

lebih lanjut Dr. Dafirah menambahkan pembuatan perahu Pinisi sendiri menunjukkan bahwa untuk mencapai sesuatu dibutuhkan perjuangan. Mulai dari mengambil kayu, membuat tiang dan bagian-bagian kapal, hingga menyelesaikan seluruh proses pembuatannya, semuanya membutuhkan ketekunan, intuisi, pengalaman, dan perjuangan.

“Dengan memberikan contoh tersebut kepada generasi muda, setidaknya kita dapat menanamkan pemahaman bahwa sesuatu tidak selalu dapat diperoleh secara instan. Jika memungkinkan, generasi muda dapat diajak mengunjungi Bira untuk melihat langsung perahu Pinisi. Di sana mereka dapat dijelaskan bahwa setiap bagian Pinisi memiliki simbol dan nilai yang perlu dimiliki oleh generasi Bugis dan Makassar”, pungkas Dr. Dafirah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....