Dosen FIB Unhas : Budaya Jadi Benteng Generasi Muda dari Narkoba
- 15 Sep 2026 10:44 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Bone - Modernisasi dan teknologi mengubah pola pergaulan serta nilai kesopanan generasi muda. Keluarga dan pendidikan perlu memperkuat karakter dan budaya sebagai benteng dari pengaruh negatif, termasuk narkoba.
Hal ini disampaikan Dosen Departemen Sastra Daerah FIB Unhas, Hunaeni Dalam dialog Obrolan Budaya Pro 4 RRI Makassar, Senin, 14 September 2026. Hunaeni menekankan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda. Penguatan nilai budaya dan kesopanan dinilai penting sebagai salah satu upaya membentengi remaja dari pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan perubahan sosial merupakan keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap kebudayaan manusia dari masa ke masa. Hunaeni menjelaskan perubahan budaya terbagi menjadi dua sifat utama, yaitu perubahan material yang cenderung cepat dan perubahan nilai-nilai non-material yang berlangsung secara lambat. Namun, laju arus globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini telah mempercepat dinamika pergaulan remaja, sehingga menciptakan jarak karakteristik yang cukup kontras antara generasi masa lalu dan generasi masa kini.
"Gejala seperti itu memang kalau kita melihat dari sisi budaya, bahwa tidak ada satupun yang tidak berubah, semuanya akan berubah. Jadi perubahan itu ada yang sifatnya lambat, ada yang cepat. Nah, termasuk nilai-nilai itu ya memang perubahannya lambat, tidak sama dengan yang sifatnya material yang bisa cepat, tetapi yang sifatnya nilai-nilai itu agak lambat perubahannya. Namun, kita melihat bagaimana pergaulan generasi muda sekarang memang berbeda pada zaman dahulu," ungkap Hunaeni.
Perbedaan tersebut, lanjut Hunaeni, terlihat jelas dari cara komunikasi non-verbal di dalam keluarga maupun masyarakat yang mengalami pergeseran makna. Ia mencontohkan bagaimana orang tua zaman dahulu cukup menggunakan isyarat mata atau kerlingan sebagai teguran bagi anak-anak yang berlaku kurang sopan, yang kini justru tidak lagi dipahami oleh anak muda masa kini akibat pudarnya batasan formalitas.
Selain itu, pola relasi antara orang tua dan anak kini telah bertransformasi menjadi hubungan yang lebih egaliter layaknya seorang teman tempat bercerita. Berbeda dengan masa lalu di mana komunikasi bersifat hierarkis dan tidak langsung, di mana anak-anak kerap menyampaikan permasalahan pribadi melalui ibu sebelum diteruskan kepada sang ayah.
"Orang-orang tua dahulu dengan anak biasanya ada jarak, tidak sama dengan zaman sekarang di mana anak dengan orang tua menjadi teman curhat. Kalau orang dulu memang sifatnya tidak ada namanya curhat-curhat, jadi kalau ada problem biasanya ke ibunya nanti ibunya yang sampaikan ke bapak, jadi ada pesan berantai. Nah, sekarang kalau kita melihat bagaimana pergaulan dalam keluarga memang ada pergeseran di situ karena faktor teknologi di era globalisasi," tambahnya.
Fenomena pergeseran nilai kesopanan ini juga merambah ke lingkungan institusi pendidikan tinggi seperti kampus, di mana tradisi penghormatan mahasiswa kepada dosen mengalami penyesuaian bentuk. Jika pada era 1990-an mahasiswa secara refleks membungkukkan badan sedikit saat melewati dosen, kini interaksi tersebut kerap disederhanakan hanya melalui senyuman atau
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....