Pakkio' Bunting : Mahakarya Sastra Lisan Penyambutan Pengantin Suku Makassar
- 11 Agt 2026 14:03 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makaswar - Suku Makassar di Sulawesi Selatan dikenal memiliki kekayaan - istiadat yang sangat dijunjung tinggi, khususnya dalam rangkaian prosesi pernikahan. Di antara panjangnya tahapan ritual yang harus dilalui, terdapat satu tradisi lisan yang unik, magis, dan sarat akan nilai seni, yakni Pakkio' Bunting.
Mengutip kajian sastra daerah yang dipublikasikan dalam Jurnal Sawerigading terbitan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, secara etimologi kata "Pakkio" memiliki arti memanggil, sementara "Bunting" berarti pengantin. Dengan demikian, secara harfiah Pakkio' Bunting dapat dimaknai sebagai sebuah prosesi adat untuk menyambut atau memanggil rombongan pengantin pria ketika tiba di kediaman mempelai wanita.
Tradisi lisan ini bukanlah sekadar ucapan selamat datang biasa, melainkan sebuah pertunjukan sastra klasik. Dilansir dari publikasi Jurnal Pangadereng yang dikelola oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan, prosesi Pakkio' Bunting wajib dibawakan oleh sosok penutur khusus, umumnya pria paruh baya atau tokoh adat yang dianugerahi suara lantang dan napas panjang. Sang penutur dituntut untuk menguasai Kelong (puisi atau sastra lisan Makassar kuno) di luar kepala tanpa membaca teks.
Prosesi dan Pelaksanaan
Dalam praktiknya, saat rombongan mempelai pria tiba, mereka tidak diperkenankan langsung masuk ke dalam rumah. Penutur Pakkio' Bunting dari pihak keluarga wanita akan berdiri menyambut di depan pintu gerbang walasuji atau di ujung tangga jika berupa rumah panggung.
Dengan suara melengking dan intonasi yang tegas, penutur tersebut akan meneriakkan syair-syair puitis. Suasana penyambutan ini biasanya terasa semakin magis dan berwibawa karena pelantunan syair sering kali diiringi oleh ritme tabuhan ganrang (gendang tradisional Makassar) dan tiupan pui'-pui' (alat musik tiup tradisional).
Nilai Filosofis Sastra Lisan
Keindahan dari tradisi ini juga tidak lepas dari makna filosofis di dalam liriknya. Berdasarkan catatan penelitian kebudayaan yang tersimpan dalam repositori akademik Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM), syair yang diucapkan dalam Pakkio' Bunting merupakan perwujudan nyata dari filosofi kearifan lokal Bugis-Makassar, yakni Sipakatau (saling memanusiakan dan menghormati).
Lirik sastra lisan ini memuat tiga unsur utama:
Penghormatan: Memuliakan kedatangan mempelai pria dan rombongan keluarga besarnya yang telah bersusah payah melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan menuju kediaman pihak perempuan.
Puji-pujian: Menyanjung ketampanan, kegagahan, serta kebangsawanan mempelai pria, sekaligus mengibaratkan kecantikan mempelai wanita layaknya bidadari yang sedang mekar.
Doa dan Nasihat (Pappasang): Berisi permohonan tulus kepada Tuhan Sang Pencipta agar kedua mempelai dianugerahi kehidupan rumah tangga yang sejuk, rezeki yang melimpah, dan keturunan yang baik.
Di era modern yang serba praktis ini, tantangan terbesar adalah menemukan maestro atau pelantun Pakkio' Bunting yang benar-benar fasih merapalkan diksi Makassar kuno dengan teknik vokal yang tepat.
Meski demikian, tingginya kesadaran masyarakat Suku Makassar akan pelestarian identitas leluhurnya membuat tradisi ini tetap eksis. Kehadiran Pakkio' Bunting di tengah hiruk-pikuk resepsi pernikahan modern menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai sastra dan tata krama kesopanan lokal tidak pernah lekang oleh waktu, serta selalu menjadi ruh yang membuat upacara adat Makassar terasa megah dan tak terlupakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....