Guru Besar Unismuh Desak Kelong Tu Panrita Masuk Kurikulum Muatan Lokal
- 27 Jul 2026 18:16 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Upaya menyelamatkan dan melestarikan Kelong Tu Panrita memerlukan sinergitas lintas sektor antara pemerintah daerah, akademisi, budayawan, hingga para ulama. "Langkah konkret dibutuhkan agar syair-syair tradisional Makassar ini dapat kembali difungsikan sebagai media pendidikan karakter generasi muda," Kata Ketua Program Studi Doktor PAI Unismuh Makassar, Prof. Dr. H. Bahaking Rama saat hadir sebagai narasumber di Pro 4 RRI Makassar Minggu, 27 Juli 2026.
Bahaking mengapresiasi Dinas Kebudayaan Kota Makassar dalam menerbitkan buku Kelong Tu Panrita. Bahaking menekankan pentingnya distribusi literatur tersebut secara masif kepada para dai, guru, dan lembaga pendidikan.
"Dibutuhkan kebijakan nyata dari pemerintah agar Kelong Tu Panrita diperkenalkan melalui muatan lokal di sekolah. Peserta didik tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami nilai moral dan pesan keislaman dalam setiap syair," ungkap Prof. Bahaking.
Guru besar Unismu mencontohkan terdapat syair tradisional yang menanamkan pentingnya semangat menuntut ilmu dan ketangguhan mental bagi anak-anak sejak dini. Ia menambahkan, pesan-pesan sederhana dalam kelong tu panrita namun mendalam ini sangat relevan untuk membentuk karakter siswa di era modern.
"Apabila tersedia dukungan penerbitan dan distribusi buku kepada para dai, khatib, dan guru, syair-syair ini dapat kembali hidup di tengah masyarakat. Dakwah pun tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga melestarikan budaya," tambah Guru besar ilmu PAI ini.
Prof. Bahaking Rama menilai, peran aktif tenaga pendidik di sekolah dianggap menjadi kunci utama dalam membumikan kembali sastra daerah di kalangan pelajar. Selain itu kata Bahaking, integrasi nilai-nilai Kelong Tu Panrita dalam kurikulum muatan lokal diharapkan dapat membendung dampak negatif budaya luar.
Ketua Program Studi Doktor PAI Unismuh ini berharap, melalui kolaborasi strategis ini, Kelong Tu Panrita diyakini mampu kembali menjadi sarana dakwah yang sejuk sekaligus penuntun moral masyarakat. "Generasi mendatang pun diharapkan tetap bangga akan identitas budaya dan nilai-nilai keimanan yang dimiliki," tutup Prof Bahaking Rama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....