Mappanre Temme: Merawat Tradisi dan Menjaga Syiar Islam di Tanah Bugis
- 28 Jul 2026 15:18 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR - Indonesia, dengan keragaman sukunya, memiliki kekayaan tradisi yang seringkali merupakan perpaduan harmonis antara nilai-nilai agama dan budaya lokal. Di Sulawesi Selatan, khususnya bagi masyarakat suku Bugis, terdapat sebuah tradisi luhur yang hingga kini masih terus dilestarikan, yaitu Mappanre Temme.
Di kutip dari istanacinta.com, Mappanre Temme adalah upacara adat sekaligus syukuran yang dilaksanakan ketika seorang anak telah berhasil menyelesaikan (khatam) bacaan Al-Qur'an sebanyak 30 juz. Secara harfiah dalam bahasa Bugis, mappanre berarti memberi makan, dan temme berarti tamat atau selesai. Tradisi ini bukan sekadar perayaan, melainkan wujud rasa syukur yang mendalam dari orang tua atas pencapaian spiritual sang anak.
Filosofi dan Makna Mendalam
Bagi masyarakat Bugis yang mayoritas memeluk agama Islam, kemampuan membaca Al-Qur'an adalah fondasi utama dalam pendidikan anak. Mappanre Temme memiliki beberapa makna filosofis yang sangat penting:
Bentuk Rasa Syukur: Merupakan manifestasi syukur kepada Allah SWT karena sang anak telah mendapatkan hidayah dan kemampuan untuk menyelesaikan bacaan kitab sucinya.
Penghormatan kepada Guru: Tradisi ini adalah bentuk apresiasi dan rasa terima kasih yang tinggi kepada Guru Mengaji (Anreguru) yang telah sabar mendidik dan menuntun anak hingga khatam.
Transisi Spiritual: Menandai fase penting kedewasaan spiritual seorang anak. Setelah khatam, anak diharapkan tidak berhenti membaca, melainkan mulai mengkaji makna dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Prosesi dan Pelaksanaan
Pelaksanaan Mappanre Temme biasanya dilangsungkan dengan meriah dan penuh khidmat. Rangkaian acaranya melibatkan keluarga besar, kerabat, tetangga, serta tokoh agama setempat.
1. Pakaian Adat
Anak yang di-khatam-kan akan didandani dengan pakaian adat kebesaran. Anak perempuan biasanya mengenakan Baju Bodo lengkap dengan perhiasannya, sedangkan anak laki-laki mengenakan Jas Tutu beserta songkok recca (peci khas Bugis).
2. Pembacaan Surah Pendek
Inti dari acara ini adalah ketika sang anak duduk di hadapan Guru Mengaji dan para tamu undangan untuk melantunkan surah-surah pendek dari Juz 30 (Juz Amma), yang diakhiri dengan doa khotmil Qur'an.
3. Simbolisme Makanan Tradisional
Sesuai dengan namanya (memberi makan), hidangan menjadi bagian sentral dalam Mappanre Temme. Makanan yang disajikan bukan sekadar pengisi perut, tetapi sarat akan simbolisme dan harapan. Beberapa hidangan wajib yang sering disajikan meliputi:
Sokko (Ketan): Beras ketan (baik putih maupun hitam) melambangkan harapan agar ilmu agama yang telah didapat akan merekat kuat dan tidak mudah dilupakan.
Kue Tradisional Manis: Kue seperti barongko, onde-onde, atau cucuru bayao disajikan dengan filosofi agar kehidupan sang anak kelak dipenuhi dengan kemanisan, kebahagiaan, dan akhlak yang baik.
Ayam Kampung: Seringkali dimasak dengan rempah khusus sebagai lauk pendamping, menyimbolkan persembahan terbaik dari tuan rumah untuk para tamu dan guru.
Pelestarian di Era Modern
Di tengah arus modernisasi, tradisi Mappanre Temme masih memegang peranan penting sebagai benteng pertahanan moral dan sosial. Tradisi ini mengukuhkan ikatan kekerabatan (silaturahmi) di antara masyarakat dan menjadi motivasi yang kuat bagi anak-anak Bugis lainnya untuk giat belajar Al-Qur'an.
Mappanre Temme adalah bukti nyata bagaimana agama Islam dapat menyatu dengan indah dalam bingkai budaya lokal. Ia bukan sekadar seremoni selebrasi, melainkan sebuah doa kolektif agar generasi penerus senantiasa berada di jalan yang diridhai, menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman, dan tetap tidak melupakan akar budaya leluhurnya. Fatima.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....