Kebudayaan dan Kearifan Lokal Ekologis Kuliner Suku Polahi Gorontalo
- 27 Jul 2026 10:48 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar —Pengetahuan lokal Suku Polahi di pedalaman Gorontalo, termasuk tradisi kuliner berbasis hutan, menjadi perhatian akademisi Universitas Hasanuddin. Komunitas adat yang hidup di kawasan pegunungan dan menerapkan pola hidup berpindah-pindah ini dinilai memiliki warisan budaya yang perlu didokumentasikan sebelum terancam hilang.
Dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, Dr. Ery Iswari, M.Hum., mengatakan kuliner Suku Polahi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga menyimpan sejarah, bahasa, serta pengetahuan ekologis masyarakat adat.
"Dibalik setiap hidangan itu tersimpan sejarah, bahasa, dan pengetahuan ekologis. Ada filosofi hidup, sistem nilai, hingga cara masyarakat menjaga keseimbangan dengan alam yang merupakan sumber kehidupan mereka di hutan. Saat sebuah tradisi kuliner unik hilang, kita seperti kehilangan sebagian peradaban bangsa," ujar Dr. Ery Iswari dalam Program Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro 4 RRI Makassar, Jumat 24Juli 2026.
Suku Polahi dikenal sebagai komunitas yang hidup di kawasan pedalaman Gorontalo dengan pola hidup nomaden atau berpindah-pindah mengikuti ketersediaan sumber makanan. Populasi mereka saat ini diperkirakan tidak mencapai 100 jiwa dan tersebar dalam kelompok-kelompok kecil.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Suku Polahi memanfaatkan hasil alam sebagai sumber pangan, seperti sagu, umbi-umbian, hewan liar, serta berbagai tumbuhan hutan. Beberapa makanan khas mereka antara lain loco uti yang menggunakan pucuk rotan muda dan waduko berupa jamur hutan musiman.

Dr. Ery menjelaskan, pola konsumsi Suku Polahi menunjukkan kemampuan masyarakat adat dalam beradaptasi dengan lingkungan tanpa merusak keseimbangan alam. Pengolahan makanan dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka.
"Mereka memasak tidak menggunakan panci, melainkan bambu di atas bara api, baik untuk memasak beras ladang maupun merebus air. Untuk wadah makan, mereka tidak memakai piring plastik, melainkan memanfaatkan daun woku yang dibentuk menyerupai mangkok atau pelepah daun pinang. Semua fasilitas hidup mereka benar-benar memanfaatkan tumbuhan dari alam," jelasnya.
Menurut Dr. Ery, penelitian terhadap Suku Polahi penting dilakukan untuk menyelamatkan pengetahuan lokal yang selama ini tersimpan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Tradisi kuliner mereka menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus bukti hubungan manusia dengan alam.
Selain sistem pangan, kehidupan Suku Polahi juga tercermin dari bentuk tempat tinggal dan kemampuan bertahan di lingkungan hutan. Rumah mereka umumnya sederhana dengan tiang kayu atau bambu serta atap daun woku, sementara pola hidup berpindah membentuk kemampuan fisik yang mendukung aktivitas mereka di medan pegunungan.
Melalui dokumentasi dan penelitian, pengetahuan lokal Suku Polahi diharapkan dapat terus dikenal oleh generasi mendatang. Pelestarian budaya tidak hanya menjaga tradisi masyarakat adat, tetapi juga mempertahankan nilai kearifan dalam menjaga hubungan manusia dengan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....