Daftar Negara Dengan Keseimbangan Hidup Paling Buruk Dunia
- 07 Mei 2026 14:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadi kini menjadi isu krusial yang menentukan tingkat stres masyarakat di berbagai belahan dunia. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa jam kerja panjang dan sistem jaminan sosial yang lemah menjadi pemicu utama menurunnya kualitas hidup pekerja global.
Melansir laporan The Economic Times, sejumlah negara besar dengan ekonomi raksasa justru mendominasi daftar wilayah dengan work-life balance terburuk. Tingginya tekanan untuk mengejar produktivitas nasional sering kali mengorbankan waktu istirahat dan kesehatan mental para karyawan yang bekerja di sektor formal maupun informal.
| Baca juga: Budaya Fika, Rahasia Produktivitas Kerja |
Nigeria tercatat sebagai negara yang menempati peringkat terbawah dalam indeks keseimbangan hidup manusia tahun ini. Selain jam kerja yang tidak menentu, faktor keamanan yang rendah serta hak cuti yang sangat terbatas membuat pekerja di negara tersebut mengalami tingkat kelelahan yang luar biasa.
Fenomena menarik juga terlihat di Amerika Serikat yang masuk dalam daftar negara dengan budaya kerja paling penuh tekanan bagi warganya. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan sistem cuti berbayar yang dijamin secara nasional, sehingga banyak pekerja merasa terpaksa tetap bekerja demi menjaga kelangsungan ekonomi keluarga.
Di kawasan Asia, China dan India terus menjadi sorotan akibat budaya kerja kompetitif yang menuntut durasi waktu bekerja sangat ekstrem setiap harinya. Jam kerja yang panjang tanpa didukung fasilitas pemulihan mental yang memadai membuat angka stres di kota-kota besar kedua negara tersebut melonjak drastis.
Sementara itu, Filipina mencatatkan perbaikan meskipun masih berada di zona merah dengan rata-rata kerja di atas empat puluh jam per minggu. Meskipun secara sistemik masih berat, indeks kebahagiaan pekerjanya cenderung lebih stabil dibandingkan negara-negara dengan tuntutan profesional serupa di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi para pengambil kebijakan untuk lebih memperhatikan regulasi waktu kerja yang lebih manusiawi bagi seluruh rakyat. Mengurangi jam kerja yang berlebihan dan menjamin hak cuti pekerja dinilai menjadi solusi paling efektif untuk menurunkan tingkat stres di tingkat global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....