Tari Maggiri, Ritual Sakral Bissu yang Terancam Punah

  • 25 Apr 2026 09:01 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Tari Maggiri merupakan salah satu tarian sakral masyarakat Bugis yang memadukan unsur spiritualitas, simbolisme, dan kekuatan budaya. Tarian ini dibawakan oleh Bissu, tokoh spiritual dalam tradisi Bugis, yang berperan sebagai penghubung antara manusia dan Dewata.

Dikutip dari nusantarainstitute.com, Dalam pertunjukannya, Tari Maggiri menampilkan adegan menusukkan keris ke tubuh penari dalam kondisi trans. Aksi tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan bagian dari ritual sakral yang dipercaya sebagai bentuk doa dan perlindungan dari marabahaya.

Secara etimologis, Maggiri berarti “menusuk” atau “mengiris”. Gerakan utama tarian ini adalah menusukkan keris ke bagian tubuh seperti dada, tangan, hingga leher. Dalam kepercayaan masyarakat Bugis, jika keris tidak melukai tubuh penari, maka hal itu menjadi tanda bahwa doa diterima oleh Dewata. Sebaliknya, jika darah mengalir, diyakini sebagai pertanda adanya ketidakseimbangan dalam kehidupan.

Peran Bissu dalam Ritual Sakral

Tari Maggiri hanya dapat dibawakan oleh Bissu, yakni sosok spiritual dalam budaya Bugis yang memiliki identitas gender di luar kategori laki-laki dan perempuan. Bissu dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan berperan sebagai mediator antara manusia dan Dewata Seuwae.

Dalam tradisi Bugis, keberadaan Bissu mencerminkan keseimbangan kosmologis antara maskulin dan feminin. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai penari, tetapi juga pemimpin ritual dan penjaga tradisi sakral.

Sejarah mencatat, Tari Maggiri telah ada sejak abad ke-14, terutama pada masa Kerajaan Bone. Tarian ini awalnya menjadi bagian dari ritual kerajaan, termasuk upacara tolak bala dan persembahan kepada kekuatan spiritual.

Makna Spiritual dan Struktur Ritual

Tari Maggiri terdiri dari beberapa tahapan ritual, dimulai dari persembahan hingga puncak trans spiritual. Iringan musik tradisional seperti gendang, gong, dan seruling menjadi bagian penting dalam membangun suasana sakral.

Setiap unsur dalam tarian memiliki makna simbolis, mulai dari gerakan, busana, hingga sesaji. Warna-warna dalam sesaji melambangkan unsur alam seperti api, air, tanah, dan angin yang menjadi sumber kehidupan.

Busana Bissu juga merepresentasikan perpaduan unsur maskulin dan feminin sebagai simbol kesempurnaan spiritual dalam pandangan masyarakat Bugis.

Pergeseran Makna di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, Tari Maggiri mengalami perubahan fungsi. Selain tetap dipentaskan dalam ritual sakral (Maggiri Dewata), kini muncul versi pertunjukan (Maggiri Mamata) yang lebih bersifat hiburan dalam acara festival atau penyambutan tamu.

Pada versi ini, unsur spiritual cenderung berkurang dan digantikan dengan aspek pertunjukan visual. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran akan berkurangnya nilai sakral dalam tradisi ini.

Sejumlah kalangan menilai komersialisasi budaya dapat menggeser makna asli Tari Maggiri. Namun, para Bissu menegaskan bahwa praktik ritual yang mereka jalankan tetap berlandaskan kepercayaan dan pengabdian, bukan semata-mata untuk hiburan.

Ancaman Kepunahan

Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, jumlah Bissu semakin berkurang. Proses menjadi Bissu yang panjang dan bersifat spiritual membuat regenerasi tidak mudah dilakukan.

Kondisi ini berdampak langsung pada kelestarian Tari Maggiri. Tanpa keberadaan Bissu, tarian ini berpotensi kehilangan makna dan bahkan terancam punah.

Upaya Pelestarian

Pelestarian Tari Maggiri membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat adat. Edukasi budaya, dokumentasi, serta pelibatan generasi muda menjadi langkah penting agar tradisi ini tetap hidup.

Tari Maggiri bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan warisan budaya yang sarat nilai spiritual dan sejarah. Keberadaannya menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Bugis yang perlu dijaga keberlanjutannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....