Tradisi Lebaran yang Unik di Masyarakat Sulawesi Selatan

  • 27 Mar 2026 19:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Tradisi Lebaran di Sulawesi Selatan merupakan perpaduan harmonis antara nilai-nilai religius Islam dengan kekayaan adat istiadat lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja, momen Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, melainkan panggung utama untuk mempererat tali silaturahmi.

Suasana hangat mulai terasa sejak beberapa hari sebelum hari raya, di mana rumah-rumah dibersihkan dan dipersiapkan untuk menyambut tamu serta keluarga yang pulang dari perantauan. Menurut Muhammad Tarjono yang merupakan Sekertaris FKP RRI Makassar dalam Program Obrolan Ikatte Pro4 RRI Makassar pada hari Kamis, 26 Maret 2026, berbicara tentang Lebaran di Sulawesi Selatan tidak lengkap tanpa Ma’burasa atau membuat Burasa (Buras).

“Masyarakat Sulawesi Selatan melakukan kegiatan Ma’burasa atau membuat burasa (buras) secara gotong royong dari rumah ke rumah di lingkungan domisili mereka dan dimasak di bawah kolong rumah panggung masyarakat yang mengadakan kegiatan Ma’burasa tersebut”,Terang Tarjono (Jono).

Tarjono menambahkan selain memasak buras, menggunakan baju baru adalah salah satu tradisi di masyarakat Bugis-Makassar dan rasanya tidak lengkap jika tidak menggunakan baju baru saat hari Raya Idul Fitri, dan ini sudah di lakukan secara turun temurun untuk menyambut hari kemenangan.

lebih lanjut Tajono mengatakan setelah menunaikan salat Id, ritual yang paling dinanti adalah tradisi ziarah kubur. Keluarga besar akan berkumpul di pemakaman leluhur untuk mendoakan mereka yang telah tiada. Momen ini sering kali menjadi ajang reuni keluarga yang sangat emosional, mengingat banyak perantau asal Sulawesi Selatan yang pulang kampung (mudik) hanya demi bisa bersimpuh di makam orang tua mereka.

“Satu aspek unik lainnya adalah tradisi Massiara, mengunjungi/mendatangi rumah sanak saudara, sahabat dan tetangga di dekat rumah dengan tujuan untuk menyambung silaturahmi keluarga, mempererat kekeluargaan, dan saling memaafkan terutama bagi mereka yang merantau dari desa ke kota atau di luar pulau Sulawesi Selatan dan baru pulang ke kampung halamanya”, ucap Tarjono(Jono).

Sebagai penutup, itulah berbagai tradisi atau kebiasaan Lebaran di masyarakat Sulawesi Selatan dan merupakan manifestasi dari prinsip Siri’ na Pesse, di mana kehormatan keluarga dijaga melalui keramahtamahan dan kepedulian sosial. Meskipun modernisasi mulai merambah, akar budaya ini tetap kokoh, menjadikan Idulfitri sebagai pengingat identitas diri sebagai insan yang beragama sekaligus berbudaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....