Lima Kali Panen, Kelompok Nelayan Pulau Balang Lompo Kembangkan Aquaponik

  • 19 Agt 2026 05:33 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID. Makassar – Program pemberdayaan kelompok nelayan melalui teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan aquaponik di Pulau Balang Lompo, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, mulai menunjukkan keberlanjutan. Kelompok Nelayan “Sipakatau” kembali melakukan pemanenan hasil budidaya pada 14 Agustus 2026, yang menjadi panen kelima sejak sistem aquaponik diterapkan.

Panen tersebut menjadi salah satu indikator bahwa teknologi yang diperkenalkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tidak berhenti pada tahap pelatihan dan instalasi, tetapi telah mulai dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Kelompok Nelayan “Sipakatau” yang dipimpin Sainal merupakan mitra dalam program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) bersama Universitas Bosowa. Tim pelaksana terdiri atas Asnaeni Ansar, S.Si., M.Si. dari Universitas Negeri Makassar sebagai ketua, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Si. dari Universitas Negeri Makassar sebagai anggota, serta Nurlaela, S.TP., M.Si. dari Universitas Bosowa sebagai anggota. Program tersebut juga melibatkan mahasiswa Universitas Negeri Makassar, Nurfadilla dan Muhammad Khatibul Umam.

Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Nelayan Melalui Sistem Budidaya Ikan Lele dan Sayuran Berbasis Panel Surya di Pulau Balang Lompo” dilaksanakan pada Juni 2026 melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

Ketika program pertama kali dilaksanakan, sistem aquaponik belum menjadi bagian dari kegiatan budidaya Kelompok Nelayan “Sipakatau”. Keterbatasan pengetahuan, sarana, dan pendampingan teknis menjadi ji salah satu kendala dalam mengembangkan kegiatan budidaya ikan dan tanaman secara terpadu.

Melalui program PKM, masyarakat tidak hanya diperkenalkan dengan konsep aquaponik, tetapi juga memperoleh pelatihan, praktik, instalasi, serta pendampingan dalam pengoperasian sistem. PLTS diterapkan sebagai sumber energi untuk mendukung operasional sistem budidaya.

Setelah sistem diterapkan, kelompok nelayan mulai mengoperasikan aquaponik secara mandiri. Keberlanjutan tersebut kemudian terlihat dari kegiatan pemanenan yang dilakukan secara bertahap.

Pemanenan pada 14 Agustus 2026 merupakan panen kelima yang dilakukan oleh kelompok nelayan. Capaian ini menunjukkan bahwa masyarakat telah mampu melanjutkan proses budidaya setelah tahap pelaksanaan program selesai.

Ketua tim pelaksana, Asnaeni Ansar, S.Si., M.Si., mengatakan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari terpasangnya teknologi, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya setelah pendampingan berakhir.

“Yang paling penting bagi kami bukan hanya teknologi dapat dipasang, tetapi masyarakat dapat terus menggunakannya. Ketika kelompok sudah mampu mengelola sistem dan melakukan panen secara berulang, itu menunjukkan bahwa proses pemberdayaan mulai berjalan,” ujar Asnaeni.

Menurutnya, kegiatan pemanenan kelima menjadi perkembangan penting karena menunjukkan adanya proses keberlanjutan dan pembelajaran dari masyarakat dalam mengelola teknologi yang telah diterapkan.

Ketua Kelompok Nelayan “Sipakatau”, Sainal, mengatakan bahwa keberadaan sistem aquaponik memberikan pengalaman baru bagi anggota kelompok dalam mengembangkan kegiatan budidaya.

Jika pada awal program anggota kelompok masih membutuhkan pendampingan dalam memahami cara kerja sistem, kini pengelolaan aquaponik mulai menjadi bagian dari aktivitas kelompok.

“Sekarang kami sudah beberapa kali melakukan panen. Ini sudah yang kelima. Kami semakin memahami bagaimana menjalankan sistemnya, merawatnya, dan mengatur proses budidayanya,” kata Sainal.

Menurutnya, proses pendampingan pada tahap awal sangat membantu anggota kelompok untuk memahami teknologi yang diterapkan. Setelah beberapa kali menjalankan siklus budidaya, anggota kelompok menjadi lebih terbiasa dalam mengoperasikan sistem.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan sehingga aquaponik tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga dapat mendukung kegiatan produktif kelompok nelayan.

Salah satu keunggulan program ini adalah integrasi antara budidaya ikan, tanaman, dan pemanfaatan energi surya. Sistem aquaponik memungkinkan kegiatan budidaya ikan dan tanaman dilakukan secara terpadu, sementara PLTS digunakan untuk mendukung kebutuhan energi sistem.

Pendekatan tersebut relevan dengan kondisi wilayah kepulauan yang memiliki potensi energi matahari sekaligus membutuhkan alternatif kegiatan produktif selain mengandalkan sumber penghidupan utama masyarakat.

Penerapan teknologi juga dirancang agar sesuai dengan kapasitas masyarakat. Karena itu, proses transfer pengetahuan menjadi bagian penting dari program, mulai dari pengenalan teknologi, praktik, instalasi, pengoperasian, hingga pendampingan.

Lima kali panen yang telah dilakukan menjadi pengalaman penting bagi kelompok untuk terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan dalam pengelolaan sistem.

Tim pelaksana berharap keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada pencapaian panen kelima. Pengalaman yang telah diperoleh kelompok selama beberapa siklus budidaya dapat menjadi dasar untuk mengembangkan sistem secara lebih produktif.

Ke depan, kelompok dapat mengembangkan pengelolaan aquaponik melalui peningkatan keterampilan budidaya, pengaturan siklus produksi, pemeliharaan peralatan, serta pengembangan hasil panen untuk kebutuhan kelompok maupun peluang ekonomi masyarakat.

Bagi tim perguruan tinggi, keberlanjutan tersebut menjadi salah satu indikator penting dari keberhasilan program pengabdian kepada masyarakat. Teknologi yang diterapkan diharapkan tidak sekadar menjadi fasilitas bantuan, tetapi dapat diadopsi, dipelihara, dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan lokal.

Pemanenan kelima pada Agustus 2026 sekaligus menunjukkan bahwa proses tersebut mulai berlangsung di Pulau Balang Lompo.

Melalui kolaborasi Universitas Negeri Makassar, Universitas Bosowa, dan Kelompok Nelayan “Sipakatau”, teknologi aquaponik berbasis energi surya diharapkan terus berkembang menjadi salah satu model kegiatan produktif masyarakat kepulauan yang mengintegrasikan inovasi teknologi, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan pemberdayaan masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....