Lomba 17 Agustus, Tradisi yang Melekat di Masyarakat Indonesia
- 14 Agt 2026 11:43 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Perlombaan menjadi salah satu tradisi yang lekat dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia setiap Agustus. Beragam lomba digelar masyarakat untuk memeriahkan suasana sekaligus mempererat kebersamaan.
Lomba seperti balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang, dan balap bakiak menjadi kegiatan yang kerap hadir dalam perayaan 17 I'm Agustus. Pesertanya pun berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Meski jenis perlombaan tersebut telah berlangsung secara turun-temurun, asal-usul tradisi lomba 17 Agustus belum diketahui secara pasti.
Dilansir Dari djkn kemenkeu.go.id. Berdasarkan artikel KPKNL Palu berjudul Lomba 17 Agustusan, Tradisi yang Sangat Melekat dan Selalu Ditunggu Tunggu, tradisi perlombaan untuk memeriahkan kemerdekaan mulai marak ketika Indonesia merayakan ulang tahun kelima kemerdekaan pada 1950.
Namun, belum diketahui tokoh yang menjadi pelopor penyelenggaraan perlombaan tersebut. Pada masa itu, intensitas pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan mulai berkurang sehingga perlombaan dipandang sebagai bentuk kegembiraan dalam merayakan kemerdekaan.
Makna di Balik Lomba 17 Agustus
Selain menjadi hiburan, sejumlah perlombaan memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan perjuangan kemerdekaan. Balap bakiak, misalnya, mengutamakan kekompakan antarpeserta.
Perlombaan hanya dapat dimenangkan apabila seluruh anggota tim mampu mengatur langkah secara bersama-sama. Sementara itu, lomba makan kerupuk kerap dikaitkan dengan gambaran kehidupan masyarakat yang serba sederhana pada masa penjajahan. Kerupuk yang merupakan makanan sederhana menjadi simbol kondisi tersebut.
Adapun panjat pinang memiliki sejarah yang lebih panjang. Menurut artikel tersebut, permainan ini pernah digunakan sebagai hiburan dalam berbagai acara pada masa sebelum Indonesia merdeka. Masyarakat menjadi peserta yang harus memanjat pohon pinang atau tiang licin untuk mendapatkan hadiah yang diletakkan di bagian atas.
Dalam perkembangannya, panjat pinang dimaknai sebagai gambaran perjuangan mencapai kemerdekaan. Tiang yang licin menggambarkan rintangan, sementara hadiah di puncak melambangkan keberhasilan setelah melalui berbagai tantangan.
Mempererat Kebersamaan
Perlombaan 17 Agustus tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dan mempererat kebersamaan. Kesederhanaan permainan justru menjadi daya tarik yang membuat perlombaan tetap bertahan dari generasi ke generasi. Gelak tawa dan semangat peserta menjadi bagian dari suasana perayaan kemerdekaan di berbagai daerah.
Seiring perkembangan zaman, jenis perlombaan semakin beragam. Namun, lomba tradisional seperti balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang, dan balap bakiak masih menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari perayaan 17 Agustus.
Tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat merayakan kemerdekaan sekaligus mengenang perjuangan para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....