Dende Dende, Salah Satu Permainan Tradisional Khas Sulawesi Selatan

  • 23 Mei 2026 06:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Permainan tradisional merupakan bagian dari masa kecil yang penuh kenangan bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Berbagai permainan yang dahulu sering dimainkan anak-anak kini mulai jarang terlihat karena perkembangan teknologi dan hadirnya permainan digital di telepon genggam (handphone).

Dalam perbincangan mengenai permainan tradisional di Acara Obrolan Ikatte pada hari Kamis, 21 Mei 2026 Pro4 RRI Makassar, Anggota FKP RRI Makassar Nanna Argas dan Mawar Sadek mengenang berbagai permainan yang dulu sering dimainkan bersama teman-teman. Salah satunya adalah permainan menggunakan sarung dan songkok, di mana seseorang bersembunyi di dalam sarung yang diikat, lalu pemain lain menebak siapa yang berada di dalamnya. Permainan tersebut menghadirkan suasana ceria dan kebersamaan di antara anak-anak.

Mawar mengatakan ada pula permainan “asing” yang dimainkan dengan cara saling menghadang agar lawan tidak berhasil melewati garis permainan. Jika seorang pemain berhasil lolos hingga garis akhir tanpa tertangkap, maka ia dinyatakan sebagai pemenang.

“Permainan lain yang juga populer adalah dende-dende, permainan melompat di atas garis-garis berbentuk kotak atau lingkaran yang digambar di tanah. Permainan ini biasanya dilakukan sambil mengangkat satu kaki dan melompat dari satu kotak ke kotak lainnya," Ujar Mawar.

Nanna menambahkan Namun, permainan-permainan tradisional tersebut kini mulai ditinggalkan. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam, menonton YouTube, maupun bermain game daring.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena selain membuat permainan tradisional perlahan punah, penggunaan gawai secara berlebihan juga dinilai dapat berdampak buruk bagi kesehatan mata anak-anak.

“Saya sebagai orang tua mengaku masih berupaya memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak dan keponakan saya. Dengan mengajarkan kembali permainan seperti dende-dende, diharapkan anak-anak dapat mengenal budaya permainan masa lalu sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap telepon genggam (handphone)," terang Nanna.

Menurut mereka (Nanna dan Mawar), permainan tradisional perlu terus diperkenalkan agar tidak hilang ditelan zaman. Selain menjadi hiburan, permainan tersebut juga mengandung nilai kebersamaan, kejujuran, dan kerja sama. Anak-anak belajar bermain bersama, mengikuti aturan, serta menerima kekalahan dengan sportif.

Salah seorang pendengar Dg. Liwang melalui telepon juga menyampaikan bahwa permainan tradisional di Sulawesi Selatan sangat beragam. Selain dende-dende dan gasing, ada pula permainan bola kasti, sembunyi-sembunyi yang dalam bahasa Makassar dikenal dengan istilah “tingko-tingko”, hingga permainan menggunakan kemiri yang disusun dalam lingkaran.

“Saya menilai permainan tradisional perlu dilestarikan karena merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Bahkan di daerah kampung sekalipun, permainan tersebut kini mulai tergerus perkembangan teknologi dan semakin jarang dimainkan anak-anak," kata Dg. Liwang.

Pendapat serupa juga disampaikan pendengar lainnya Pak Marzuki di Makassar melalui telepon mengatakan bahwa permainan tradisional memiliki unsur kebersamaan yang sangat kuat. “Anak-anak bermain secara ramai-ramai dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Dalam permainan, siapa yang kalah harus mengakui kekalahannya sesuai aturan yang telah disepakati bersama," ungkap Pak Marzuki.

Karena itu, masyarakat berharap permainan tradisional Sulawesi Selatan dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda. Meski ruang bermain anak kini semakin terbatas, permainan tersebut masih dapat dilakukan di halaman rumah atau teras dengan sedikit kreativitas. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya terpaku pada layar telepon genggam, tetapi juga dapat mengenal budaya dan nilai sosial yang terkandung dalam permainan tradisional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....