Mengenali Gaya Asuh Anak yang Perlu Orang Tua Ketahui

  • 11 Mei 2026 16:25 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Pola asuh anak menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter, perilaku, hingga perkembangan emosional anak sejak usia dini. Setiap orang tua tentu memiliki cara berbeda dalam mendidik buah hati mereka, namun memahami jenis-jenis gaya asuh dapat membantu orang tua memilih pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan anak.

Menurut Novita Maulidya Jalal, M. Psi., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi UNM),dalam dunia psikologi, gaya asuh umumnya dibagi menjadi beberapa tipe utama, yakni otoriter, permisif, demokratis, dan abai. Masing-masing memiliki pengaruh berbeda terhadap tumbuh kembang anak. Pola asuh yang diterapkan secara konsisten akan sangat memengaruhi cara anak bersikap, berkomunikasi, hingga menghadapi tantangan di lingkungan sosialnya.

“Gaya asuh otoriter dikenal dengan aturan yang ketat dan tuntutan tinggi terhadap anak. Orang tua cenderung mengharuskan anak mengikuti aturan tanpa banyak penjelasan atau diskusi. Anak yang dibesarkan dengan pola ini biasanya disiplin, namun sebagian juga dapat tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri atau takut menyampaikan pendapat,” jelas Novita.

Berbeda dengan otoriter, gaya asuh permisif lebih memberi kebebasan kepada anak tanpa banyak batasan. “Orang tua cenderung menuruti keinginan anak dan jarang memberikan konsekuensi atas perilaku yang salah. Akibatnya, anak dapat kesulitan memahami tanggung jawab dan aturan dalam kehidupan sosial,”tambahnya.

“Sementara itu, gaya asuh demokratis dianggap sebagai pola yang paling seimbang. Orang tua tetap memberikan aturan, namun disertai komunikasi yang terbuka dan penuh dukungan emosional. Anak diberi kesempatan menyampaikan pendapat sekaligus diajarkan memahami tanggung jawab. Pola ini dinilai mampu membantu anak tumbuh menjadi pribadi mandiri dan percaya diri,” ungkap Novita.

Selain ketiga pola tersebut, terdapat pula gaya asuh abai atau uninvolved parenting, yakni ketika orang tua kurang terlibat dalam kehidupan anak. “Minimnya perhatian dan komunikasi dapat membuat anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang maupun dukungan emosional. Kondisi ini berisiko memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan sosial anak di kemudian hari jadi sebaiknya tidak diterapkan,” tegas Novita.

Membangun komunikasi yang hangat, memberikan perhatian, serta menjadi pendengar yang baik merupakan langkah penting dalam menciptakan hubungan positif antara orang tua dan anak. Konsistensi dalam menerapkan aturan juga diperlukan agar anak memahami batasan dan tanggung jawabnya. Dengan memahami berbagai gaya asuh, orang tua diharapkan dapat lebih bijak dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Lingkungan keluarga yang sehat, penuh kasih sayang, dan terbuka terhadap komunikasi akan membantu anak berkembang secara optimal, baik dari sisi emosional, sosial, maupun akademik

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....