Cerita Duta Pemuda Kota Makassar : Pressure dan Passion

  • 17 Apr 2026 20:52 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Perjalanan menjadi Duta Pemuda bukanlah hal yang instan. Dibalik gelar yang disandang, terdapat proses panjang, tantangan, hingga pembelajaran berharga yang membentuk karakter generasi muda untuk lebih siap berkontribusi bagi daerah.

Hal tersebut diungkapkan dalam program Sore Ceria yang tayang di kanal Youtube Pro 2 RRI Makassar dengan judul “Duta Pemuda Spill Cerita: Perjuangan, Pressure, & Passion”, menghadirkan dua narasumber yakni Nur Muhammad Ali Makmur S dan Andi Azila Inayah Madrika sebagai Duta Pemuda Kota Makassar Tahun 2025.

Andi Azila menjelaskan bahwa peran yang dijalani saat ini memiliki perbedaan signifikan dibandingkan pengalaman sebelumnya. Jika sebelumnya lebih berfokus pada pengembangan remaja secara umum, kini perannya menjadi lebih spesifik, terutama dalam merepresentasikan potensi kemaritiman Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

“Sebagai representasi pemuda di Kota Makassar, kita tidak hanya membawa citra diri, tapi juga harus peka terhadap berbagai isu kepemudaan yang ada,” ujarnya.

Ia menambahkan, masih terdapat berbagai tantangan sosial yang dihadapi pemuda di Makassar. Oleh karena itu, isu-isu tersebut perlu diangkat dan dijadikan program kerja yang nantinya dapat dikolaborasikan bersama Pemerintah Kota Makassar, khususnya pada sektor kepemudaan dan olahraga.

Sementara itu, Nur Muhammad Ali Makmur S membagikan kisah perjuangannya yang tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku sempat gagal berpartisipasi secara maksimal karena kendala waktu, sebelum akhirnya kembali mencoba di tahun berikutnya dengan persiapan yang lebih matang.

“Di tahun 2024 saya mulai serius mempersiapkan diri, dan di 2025 alhamdulillah bisa sampai di posisi First Runner Up. Dari situ saya belajar tentang konsistensi dan keberanian untuk mencoba lagi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa ajang Duta Pemuda memiliki keunikan tersendiri dibandingkan ajang serupa lainnya. Tidak hanya berhenti pada tahap kompetisi, para finalis justru mendapatkan pembinaan langsung dari Dinas Pemuda dan dilibatkan dalam berbagai program nyata.

“Duta Pemuda bukan sekadar soal penampilan, tapi bagaimana kita punya kapasitas, ide, dan bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Andi Azila juga menyoroti pentingnya membangun suara pemuda. Menurutnya, peran Duta Pemuda adalah menjadi jembatan bagi aspirasi generasi muda yang belum tersampaikan, khususnya terkait isu-isu yang kurang mendapat perhatian.

“Kita harus bisa merangkul dan mengajak pemuda lain untuk berani bersuara. Karena membangun suara pemuda bukan hanya tentang berbicara, tapi bagaimana kita menyatukan dan menggerakkan mereka,” katanya.

Di sisi lain, Nur Muhammad Ali Makmur S melihat pentingnya peningkatan kapasitas pemuda, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital. Ia menilai pelatihan pengelolaan media sosial dan penggunaan gadget secara bijak menjadi kebutuhan yang mendesak.

“Pemuda harus bisa memanfaatkan teknologi untuk hal produktif, bukan hanya hiburan. Selain itu, mereka juga perlu menyeimbangkan aktivitas digital dengan pendidikan dan lingkungan sosial,” ujarnya.

Menutup perbincangan, Andi Azila menekankan bahwa kualitas diri, khususnya dari segi pemikiran, menjadi hal utama yang harus dimiliki seorang Duta Pemuda. Kemampuan berpikir kritis, berdiskusi, serta menyampaikan gagasan dinilai lebih penting dibanding sekadar penampilan.

“Yang utama itu isi pemikiran dan kontribusi nyata. Karena Duta Pemuda adalah tentang aksi dan dampak yang bisa diberikan bagi masyarakat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....