Antrean Panjang di SPBU Sulsel Berdampak ke Biaya Distribusi Komoditas Pertania

  • 07 Apr 2026 04:23 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) akibat antrean panjang di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan turut berdampak pada kenaikan biaya distribusi komoditas pertanian, termasuk cabai. Kondisi ini dinilai memperparah fluktuasi harga yang sudah terjadi akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di tingkat lokal.

Anastika, pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), mengatakan sulitnya memperoleh BBM secara langsung mendorong kenaikan biaya angkut hasil pertanian dari kebun menuju pasar sebagaimana disampaikan dalam dialog Pro 1 RRI Makassar, Senin, 6 April 2026. "Dengan sulitnya mendapatkan BBM ini pastilah bukan saja dari sektor pertanian (cabai). Sebagai petani padi, dengan kondisi ini ada kenaikan biaya angkut juga sampai lima puluh persen."

Ia mengungkapkan, harga bensin di wilayah pedesaan seperti Pinrang sempat mencapai Rp35.000 per liter. Kondisi itu terjadi bukan karena BBM tidak tersedia, melainkan karena antrean yang sangat panjang di SPBU membuat pasokan di tingkat pengecer menjadi terbatas dan harganya melonjak.

"Minggu-minggu ini kita akan dapat satu liternya bensin itu sampai Rp35.000. Naik di sana, di kita di desa maupun di kota."

Ia menjelaskan, meski SPBU di wilayahnya seperti Pinrang sebenarnya berjumlah cukup, sekitar dua belas unit namun tingginya jumlah kendaraan membuat antrean tidak terhindarkan. Kenaikan biaya BBM pun berdampak pada semua lini produksi pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga pengiriman hasil panen ke pasar.

"Kalau di selatan mengenai sayur-sayuran, apapun hasil produksi pertanian kita itu kalau kurang pasti harganya naik. Itu sudah budaya kita."

Sementara itu, Sarijuddin, Plt. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan, Holti ultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, berpendapat kesulitan memperoleh BBM tidak berdampak signifikan secara teknis terhadap budidaya tanaman cabai di lapangan sebagaimana disampaikan dalam dialog yang sama. "Dari aspek teknis saya kira tidak ada efeknya. Bapak petani tetap melakukan pengolahan budidaya tanaman, tetap melaksanakan, tetap jalan semua."

Meski terdapat perbedaan pandangan antara kedua narasumber, keduanya sepakat bahwa akar persoalan fluktuasi harga cabai di Sulawesi Selatan terletak pada ketiadaan fasilitas penyimpanan dan lemahnya regulasi distribusi antardaerah. Penanganan persoalan struktural ini dinilai jauh lebih mendesak dibandingkan sekadar merespons gejolak harga yang bersifat musiman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....