BPBD Maros Waspadai Karhutla di Tengah Kekeringan

  • 07 Okt 2026 09:33 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla perlu diwaspadai di kawasan Taman Nasional, terlebih di tengah kondisi cuaca panas dan kekeringan. Upaya pencegahan tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Maros, Towadeng, S.H., dalam program Dialog Kentongan RRI Pro 1 Makassar, Selasa, 6 Oktober 2026. Kepada Host Arfan Yusri, Towadeng menjelaskan, fenomena El Nino turut meningkatkan suhu udara hingga mencapai sekitar 38 sampai 40 derajat Celsius, sehingga kondisi vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.

Mengantisipasi ancaman tersebut, BPBD Maros telah membentuk pos tanggap darurat di wilayah Cendrana dan Tompok Bulu. Penanganan juga dilakukan secara bersama melalui koordinasi dengan TNI, Polri, petugas pengelola kawasan hutan, serta masyarakat. Menurut Towadeng, kolaborasi menjadi penting karena kebakaran di kawasan hutan memiliki karakteristik dan medan yang tidak mudah dijangkau.

"Kita sudah membentuk pos tanggap darurat di Cendrana dan Tompok Bulu, kemudian kita berkolaborasi dengan TNI, Polri dan masyarakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan," jelas Towadeng.

Ia menyebut Kecamatan Cendrana sebagai salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih karena didominasi kawasan hutan pinus. Daun pinus yang kering, ditambah kondisi cuaca panas dan kering, dapat memperbesar potensi penyebaran api. Karena itu, patroli dan pemantauan dilakukan secara intensif oleh petugas Balai Taman Nasional dan Manggala Agni. BPBD Maros sendiri belum memiliki sistem deteksi berbasis satelit, sehingga pemantauan lapangan menjadi salah satu strategi utama.

Selain patroli, edukasi masyarakat terus diperkuat melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana. Desa-desa tersebut diharapkan menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman kepada warga mengenai pencegahan bencana, termasuk larangan membuka lahan dengan cara membakar. Upaya ini semakin penting karena saat ini 12 dari 14 kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan, sehingga BPBD juga tengah fokus pada distribusi air bersih bagi masyarakat.

Towadeng menegaskan, kondisi medan hutan yang sulit dijangkau menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Karena itu, penempatan unit pemadam kebakaran di lokasi-lokasi strategis menjadi bagian dari langkah antisipasi. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api melalui perangkat desa atau pos penjagaan terdekat, mengingat keterbatasan jaringan komunikasi di dalam kawasan hutan.

Ia mengingatkan, pencegahan karhutla harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk para pengunjung kawasan wisata dan mahasiswa yang melakukan kegiatan berkemah. Api unggun maupun puntung rokok yang tidak dipastikan padam dapat menjadi sumber kebakaran. "Jangan sampai aktivitas kita di hutan justru menjadi penyebab terjadinya kebakaran. Mari sama-sama menjaga kawasan taman nasional," pesan Towadeng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....