Dari Timbunan Sampah, TPA Tamangapa Disiapkan Jadi Hutan Kota
- 05 Okt 2026 13:26 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pemerintah Kota Makassar mulai menyiapkan transformasi kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, menjadi ruang terbuka hijau (RTH) sekaligus hutan kota. Langkah tersebut ditandai dengan penanaman 285 bibit pohon di kawasan TPA Antang bersama Badan Karantina Indonesia Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, Senin 5 Oktober 2026.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan, penghijauan menjadi bagian dari transformasi TPA Antang yang secara bertahap diarahkan meninggalkan sistem open dumping menuju pengelolaan yang lebih ramah lingkungan. "Penanaman pohon di kawasan TPA sangat penting. Ini menjadi area tamasya dan bukit hijau setelah timbunan sampahnya dipadatkan dan ditutup lapisan tanah untuk ditanami ribuan pohon," kata Munafri.
Menurutnya, kawasan TPA tidak semestinya hanya berfungsi sebagai tempat pemrosesan akhir sampah, tetapi juga dapat ditata menjadi kawasan hijau yang memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat. Ia menyebut, TPA Tamangapa yang memiliki luas sekitar 21 hektare kini memasuki masa transformasi besar-besaran, termasuk perubahan sistem pengelolaan sampah dari open dumping menuju controlled landfill atau sanitary landfill.
Sebanyak 285 bibit pohon yang ditanam terdiri atas 100 tabebuya, 50 salam, 25 sirsak, 25 jeruk nipis, 25 trembesi, 10 nangka, 10 rambutan, 10 mangga, 10 sukun, 10 sawo dan 10 kelengkeng.
Munafri berharap penanaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah awal penataan kawasan secara berkelanjutan. "Kami ingin menghadirkan wajah TPA yang semakin hijau. Ini penting karena kita merencanakan bagaimana TPA ini bisa menjadi media untuk menanam berbagai macam pohon," ujarnya.
Ia juga meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mengembangkan tanaman endemik Sulawesi Selatan yang mulai jarang ditemui, seperti copeng, sattulu, bu'ne dan kersen. Selain pohon buah dan tanaman endemik, Pemkot Makassar juga akan memperbanyak pohon pelindung untuk memperkuat fungsi ekologis kawasan.
"Jadi bukan hanya pohon buah, tetapi juga beberapa pohon pelindung. Kita berharap TPA ini bukan hanya menjadi TPA secara hamparan, tetapi juga bisa menjadi hutan kota di kemudian hari," jelasnya.
Munafri menargetkan perubahan wajah kawasan mulai terlihat dalam tiga hingga empat tahun ke depan seiring pertumbuhan pohon yang ditanam. "Karena hasil penghijauan ini tidak bisa terlihat secara instan. Kita maksimalkan, tiga sampai empat tahun sudah akan mulai kelihatan hasilnya," katanya.
Transformasi TPA Antang juga dilakukan melalui perubahan pola pengelolaan sampah. Pemkot Makassar mendorong agar sampah yang masuk ke TPA nantinya hanya berupa residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Menurut Munafri, upaya tersebut membutuhkan perubahan perilaku masyarakat melalui pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.
"Yang sampai ke sini hanyalah residu. Walaupun hari ini kita masih terus melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat sehingga mereka mampu mengelola sampah mulai dari rumah tangga," ungkapnya.
Pemkot melalui DLH juga melakukan penutupan timbunan dengan lapisan tanah atau cover soil pada area yang telah selesai digunakan. Langkah tersebut antara lain ditujukan untuk mengurangi bau dari kawasan TPA. "Dulu orang bilang, baunya TPA Antang sudah sampai ke mana-mana. Alhamdulillah, bau sudah bisa kita reduce dengan menghadirkan cover soil," beber Munafri.
Selain penghijauan, Pemkot Makassar juga mengembangkan pemanfaatan sampah organik dari sejumlah pasar sebagai pakan ternak yang dikelola masyarakat di sekitar kawasan TPA. Munafri menyebut, sampah organik yang dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut mencapai sekitar 30 hingga 40 ton per hari.
Menurutnya, pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat. "Kalau sampah organik dari pasar-pasar yang ada di Kota Makassar dibawa ke sini untuk menjadi pakan ternak, maka masyarakat, para peternak ini akan mendapatkan nilai tambah dari berkurangnya biaya pakan yang mereka keluarkan," ujarnya.
Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular, sehingga sampah tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Munafri menegaskan, transformasi TPA Antang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas hingga lembaga terkait. Ke depan, kawasan tersebut diharapkan tidak hanya dikenal sebagai tempat pemrosesan akhir sampah, tetapi juga menjadi ruang edukasi lingkungan, kawasan hijau dan destinasi masyarakat.
"Harapannya, orang bisa datang melihat bukan cuma kondisi bagaimana proses operasional yang terjadi di TPA, tetapi juga melihat kondisi bahwa TPA ini akan menjadi hutan konservasi kota yang baik," pungkasnya.
Kegiatan penanaman pohon turut dihadiri Ketua Dewan Lingkungan Kota Makassar Melinda Aksa, Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, serta perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....