Kenali Resiko Stunting sejak Masa Kehamilan
- 19 Sep 2026 16:42 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa remaja putri, sebelum kehamilan hingga selama masa kehamilan. Hal tersebut disampaikan Sitti Rahmatiah, SKM, M.Kes, Nutrisionis Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dalam program Indonesia Sehat bersama host Risna Supratio, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, stunting merupakan masalah gizi kronis yang dapat dicegah melalui intervensi sejak awal kehidupan. “Stunting itu sebenarnya bisa kita cegah sejak remaja putri, sebelum hamil, kemudian pada saat hamil. Jadi jangan menunggu anak lahir baru kita melakukan pencegahan,” ujar Sitti.
Di Sulawesi Selatan, prevalensi stunting yang disampaikan dalam dialog tersebut mencapai 23,3 persen, dengan Kabupaten Jeneponto disebut memiliki angka tertinggi sekitar 37 persen. Sitti menjelaskan, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan lintas sektor karena tidak hanya berkaitan dengan masalah kesehatan.
“Penanganan stunting ini tidak bisa hanya dari sektor kesehatan. Ada intervensi spesifik dan ada intervensi sensitif yang harus dilakukan secara bersama-sama,” jelasnya.
Ia menerangkan, intervensi spesifik dilakukan melalui sektor kesehatan, seperti pemberian makanan tambahan atau PMT, tablet tambah darah, serta imunisasi. Sementara intervensi sensitif dilakukan melalui sektor di luar kesehatan, antara lain penyediaan jamban dan sanitasi yang layak serta peningkatan akses sosial dan ekonomi masyarakat.
Untuk PMT, program tersebut diberikan kepada kelompok sasaran yang mengalami masalah gizi, termasuk ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). “PMT ini diberikan kepada sasaran yang memang mempunyai masalah gizi. Untuk ibu hamil, salah satunya adalah ibu hamil yang mengalami KEK,” ungkap Sitti.
| Baca juga: Gowa Siapkan Formulasi Cepat Atasi Stunting |
Terkait deteksi stunting, Sitti mengingatkan masyarakat bahwa kondisi tersebut tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengamatan fisik. Pengukuran panjang atau tinggi badan perlu dilakukan dan hasilnya dibandingkan dengan standar pertumbuhan yang ditetapkan.
“Stunting itu tidak bisa kita lihat hanya dengan kasat mata. Kita harus melakukan pengukuran tinggi badan atau panjang badan, kemudian dibandingkan dengan standar pertumbuhan atau kurva WHO,” katanya.
Karena itu, pemantauan pertumbuhan anak secara rutin melalui posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam deteksi dini. Bagi ibu hamil, pemenuhan kebutuhan gizi juga harus menjadi perhatian utama.
Sitti menganjurkan penerapan prinsip “Isi Piringku” dengan mengonsumsi makanan yang beragam, seimbang, serta memperhatikan sumber protein, khususnya protein hewani. “Ibu hamil harus makan beragam. Jangan hanya satu jenis makanan. Kita bisa memanfaatkan pangan lokal yang ada di sekitar kita, seperti umbi-umbian, jagung, sagu, termasuk daun kelor,” tuturnya.
Pemanfaatan pangan lokal tersebut dapat menjadi salah satu pilihan dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus mendukung pencegahan anemia. Selain pemenuhan gizi, kondisi psikologis ibu hamil juga perlu mendapatkan perhatian.
Dukungan dari suami dan keluarga diperlukan agar ibu dapat menjalani masa kehamilan dengan nyaman dan tidak mengalami tekanan berlebihan. “Psikologis ibu hamil juga harus kita jaga. Jangan sampai ibu mengalami stres karena kondisi psikologis ini juga berkaitan dengan hormon oksitosin, yang nantinya berperan dalam proses persalinan dan produksi ASI,” jelas Sitti.
Menurutnya, kesehatan ibu secara fisik dan psikologis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mempersiapkan tumbuh kembang anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....