Berawal dari Waktu Luang, Faridah Fakhriyah Sukses Rintis Usaha Es Teler
- 22 Agt 2026 20:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Faridah Fakhriyah, Owner Es Teler Aja, memanfaatkan waktu luang yang dimilikinya sambil menunggu masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan membuka usaha es teler. Keputusan tersebut diambil karena ia merasa memiliki cukup banyak waktu senggang yang dapat dimanfaatkan untuk memulai usaha. Hal itu disampaikan Faridah dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar edisi Jumat, 22 Agustus 2026.
Faridah mengaku telah memiliki jiwa kewirausahaan sejak kecil. Keputusan membuka usaha es teler juga didukung oleh pengalaman keluarganya yang sebelumnya telah menjalankan usaha serupa.
“Awalnya, saya sedang libur sambil menunggu masa PKL. Dalam waktu sekitar dua minggu itu, saya merasa tidak memiliki kegiatan karena aktivitas organisasi sudah selesai. Kebetulan, saya memang sudah memiliki jiwa wirausaha sejak kecil. Karena itu, saya memutuskan untuk membuka usaha," ujar Faridah.
Faridah menjelaskan, ide membuka usaha es teler muncul setelah salah seorang anggota keluarganya memiliki pengalaman membuat es teler dan membagikan pengalamannya kepada sang ibu. Dari situlah, ibunya kemudian mendorongnya untuk mencoba membuka usaha tersebut.
“Kenapa saya memilih es teler karena ada keluarga yang sebelumnya memiliki pengalaman membuat es teler. Pengalaman itu kemudian dibagikan kepada ibu saya, lalu ibu menyarankan agar saya mencoba membuka usaha es teler. Akhirnya, saya mendapatkan modal dari ibu dan bisa membuka usaha seperti sekarang,” jelasnya.
Dalam menjalankan usaha tersebut, Farida menggunakan empat jenis buah, yakni nangka, alpukat, pepaya, dan buah naga. Untuk menjaga kualitas, buah nangka dan alpukat disimpan dalam kondisi beku atau frozen, sedangkan pepaya dan buah naga diperoleh dalam kondisi segar dari pasar. Dari proses produksi tersebut, limbah yang paling banyak dihasilkan adalah kulit buah naga. Menurut Faridah, kulit buah naga memiliki tekstur yang lebih tebal dibandingkan kulit pepaya sehingga menghasilkan lebih banyak limbah.
“Dalam usaha es teler, saya menggunakan empat jenis buah, yaitu nangka, alpukat, pepaya, dan buah naga yang dibeli dalam kondisi segar dari pasar. Untuk alpukat dan nangka saya menggunakan produk frozen untuk menjaga kualitas. Limbah yang paling banyak adalah kulit buah naga karena kulitnya cukup tebal,” ungkapnya.
Awalnya, limbah kulit buah tersebut dibuang ke tempat pengolahan sampah organik yang tersedia di rumahnya. Tempat tersebut berupa lubang di dalam tanah yang digunakan untuk menampung sisa makanan dan sampah organik agar dapat terurai menjadi kompos. Namun, jumlah kulit buah yang dihasilkan dari usaha es teler cukup banyak sehingga tempat pengolahan sampah organik tersebut cepat penuh. Sementara itu, proses penguraian sampah menjadi kompos membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut kemudian mendorong Farida mencari alternatif pemanfaatan limbah kulit buah. Ide tersebut muncul ketika ia melihat konten di media sosial tentang pelaku usaha laundry yang menggunakan ekoenzim sebagai salah satu bahan dalam produk pembersih.
“Sebelumnya, kulit buah saya buang ke tempat pengolahan sampah organik. Namun, karena jumlahnya terlalu banyak, tempat tersebut cepat penuh, sedangkan proses menjadi kompos membutuhkan waktu cukup lama. Kemudian, saya melihat video di media sosial tentang pengusaha laundry yang menggunakan sabun berbahan ekoenzim. Dari situ saya berpikir bahwa ekoenzim cocok untuk memanfaatkan limbah kulit buah dari usaha es teler", tuturnya.
Menurutnya, ekoenzim memiliki berbagai manfaat dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan pengalaman yang ia peroleh dari lingkungan sekitar, ekoenzim dapat digunakan sebagai bahan pembersih, sabun cuci pakaian, sabun cuci piring, hingga pupuk.
“Ekoenzim merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik, seperti sayuran dan buah-buahan, yang dicampur dengan air dan gula merah atau molase. Manfaatnya cukup beragam. Ada tetangga yang membagikan pengalaman bahwa ekoenzim dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah pada kulit. Selain itu, ekoenzim juga dapat dimanfaatkan sebagai sabun laundry, sabun cuci piring, dan pupuk,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....