Bukan Sekadar Teori, Moderasi Beragama Jadi Budaya di MTsN 2 Makassar
- 02 Agt 2026 19:59 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Penguatan karakter peserta didik tidak cukup hanya dibangun melalui proses belajar di dalam ruang kelas. Menjawab tantangan kehidupan masyarakat yang semakin beragam, MTsN 2 Kota Makassar memperkuat implementasi Moderasi Beragama melalui Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bertema "Membangun Harmoni dalam Keberagaman, Aktualisasi Moderasi Beragama: Berbeda Itu Biasa, Harmoni Itu Luar Biasa" yang digelar pada Sabtu 1 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula MTsN 2 Kota Makassar tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah membangun budaya saling menghormati, toleransi, dan semangat kebangsaan sejak dini. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Andi Ahmad Ali Inani.
Pelatihan menghadirkan Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Makassar Andi Imran serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba H. Abd. Rafik sebagai narasumber. Turut hadir Kepala MTsN 2 Kota Makassar Kamaluddin, Ketua Pokjawas, Kepala Tata Usaha, serta seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk memperkuat pemahaman mengenai penerapan Moderasi Beragama di lingkungan madrasah.
Kepala MTsN 2 Kota Makassar, Kamaluddin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah nyata dalam mengintegrasikan nilai-nilai Moderasi Beragama dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada seluruh proses pembelajaran. Menurutnya, pendidikan karakter akan lebih efektif apabila nilai toleransi dan kepedulian diterapkan secara konsisten dalam aktivitas belajar sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa meskipun MTsN 2 Kota Makassar belum ditetapkan sebagai madrasah piloting Kurikulum Berbasis Cinta, penerapan nilai-nilainya telah dilakukan secara mandiri. "Kami ingin melahirkan generasi yang kuat dalam keimanan dan ketakwaan, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlakul karimah, serta memiliki sikap moderat dalam menyikapi keberagaman. Nilai-nilai tersebut kami integrasikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta dalam seluruh aktivitas pembelajaran," ujar Kamaluddin.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad, menegaskan bahwa penguatan Moderasi Beragama merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga keutuhan bangsa. Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia harus dipandang sebagai kekuatan yang dapat mempererat persatuan apabila dikelola melalui pendidikan yang tepat.
Ia menilai madrasah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat yang majemuk. "Moderasi beragama bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi budaya dalam dunia pendidikan. Madrasah memiliki tanggung jawab menanamkan nilai toleransi, cinta kemanusiaan, dan penghormatan terhadap perbedaan agar lahir generasi yang mampu menjaga persatuan bangsa," tegas H. Muhammad.
Lebih lanjut, H. Muhammad menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menjadi salah satu pendekatan yang memperkuat implementasi Moderasi Beragama karena mengajarkan peserta didik untuk mencintai Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari di lingkungan madrasah.
Ia juga mengingatkan bahwa guru memegang peran penting sebagai teladan bagi peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai toleransi. "Semakin baik pemahaman agama seseorang, seharusnya semakin tinggi pula sikap toleransi dan kepeduliannya terhadap sesama. Karena itu, guru harus menjadi teladan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai moderasi beragama melalui tindakan nyata, bukan hanya materi pembelajaran," tambahnya.
Melalui pelatihan ini, para guru memperoleh penguatan mengenai strategi mengintegrasikan nilai-nilai Moderasi Beragama ke dalam proses pembelajaran, membangun budaya madrasah yang inklusif, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat peran madrasah sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya mencetak peserta didik berprestasi, tetapi juga membentuk generasi yang menghargai perbedaan dan mampu menjaga harmoni di tengah kehidupan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....