Budidaya Ikan Nila Jadi Andalan Baru Ekonomi Desa Tenrigangkae
- 28 Jul 2026 07:56 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - Lahan rawa yang sebelumnya terbengkalai dan tidak produktif kini berubah menjadi sumber penggerak ekonomi masyarakat. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, berhasil mengembangkan budidaya ikan nila yang melibatkan masyarakat sekaligus memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Kisah tersebut menjadi salah satu praktik baik pembangunan ekonomi desa. Berawal dari pemanfaatan lahan tidur milik warga di Dusun Tinggito, Pemerintah Desa Tenrigangkae bersama BUMDes mengubah kawasan tersebut menjadi kolam budidaya ikan nila.
Kini, dua kolam yang dikelola BUMDes tersebut telah diisi sekitar 45 ribu ekor ikan nila. Pengelolaannya pun melibatkan masyarakat sehingga manfaat ekonomi dari usaha tersebut dapat dirasakan secara bersama-sama.
Kepala Desa Tenrigangkae, Wahyu Febri, mengatakan pemilihan ikan nila dilakukan berdasarkan pertimbangan potensi pasar serta kondisi geografis wilayah setempat.
“Kami memilih ikan nila karena sudah memiliki pasar. Cara perawatannya juga sesuai dengan kondisi alam dan geografis Desa Tenrigangkae yang airnya payau dan air tawar,” kata Wahyu saat dihubungi desaterkini.id, Senin 27 Juli 2026.
Menurutnya, pemanfaatan lahan milik warga melalui BUMDes menjadi solusi untuk mengubah lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan menjadi aset produktif.
“Daripada lahan tidur tidak dimanfaatkan, kami menggali menjadi kolam ikan. Lahannya milik masyarakat, tetapi dikelola oleh BUMDes sehingga masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya,” ujar Wahyu yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Maros.
Program budidaya ikan nila tersebut mulai dirintis sejak Oktober 2025 dengan dukungan anggaran ketahanan pangan sekitar Rp170 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk membangun kolam sekaligus melengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti kincir air, jaringan listrik, sumur bor, perpipaan, hingga sarana operasional lainnya.
Hasil pengelolaan usaha tersebut perlahan mulai menunjukkan dampak positif. Menurut Wahyu, pendapatan dari budidaya ikan nila tidak hanya mampu mengembalikan modal pembangunan sarana pendukung, tetapi juga telah memberikan penghasilan bagi pengurus BUMDes.
“Alhamdulillah modalnya sudah kembali. Pengurus BUMDes juga sudah mendapat gaji dan asetnya tetap menjadi milik desa sehingga ini menjadi investasi jangka panjang,” katanya.
Keuntungan dari panen perdana kemudian kembali diputar untuk mengembangkan usaha. Jumlah ikan yang sebelumnya sekitar 30 ribu ekor kini bertambah menjadi sekitar 45 ribu ekor setelah BUMDes kembali membeli bibit baru.
Tak berhenti pada pengembangan usaha, budidaya ikan nila tersebut juga mulai memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa. Wahyu memperkirakan penerimaan desa dari unit usaha tersebut mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta pada 2025.
Sementara pada 2026, angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp20 juta. Sesuai mekanisme pengelolaan BUMDes, sebagian keuntungan usaha akan menjadi pendapatan desa, sementara sebagian lainnya kembali diputar untuk memperbesar skala usaha dan menjaga keberlanjutan budidaya.
Ke depan, keuntungan yang diperoleh juga direncanakan dapat mendukung berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui pemberian beasiswa bagi anak-anak yang putus sekolah.
Saat ini, sekitar 10 kepala keluarga telah terlibat langsung dalam pengelolaan budidaya ikan nila. Prospek usaha yang dinilai semakin menjanjikan bahkan membuat sejumlah warga mulai menawarkan lahan mereka untuk dikembangkan menjadi kolam budidaya.
Melihat peluang tersebut, Pemerintah Desa Tenrigangkae telah menyiapkan sekitar 2,4 hektare lahan tidur tambahan yang rencananya akan dikembangkan menjadi kawasan budidaya ikan nila.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas lapangan usaha, meningkatkan keterlibatan masyarakat, sekaligus memperkuat perekonomian desa berbasis potensi lokal.
Wahyu pun menyimpan harapan besar agar pengembangan budidaya ikan nila dapat menjadi identitas baru bagi desanya.
“Saya berharap nantinya Desa Tenrigangkae bisa dikenal sebagai Desa Ikan Nila atau Kampung Nila di Kabupaten Maros,” tutupnya.
Dari lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif, Desa Tenrigangkae kini mulai membangun harapan baru. Budidaya ikan nila bukan hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menjadi bukti bahwa potensi desa dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara bersama, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....