UNHAS dan UMMA Maros Kenalkan Teknologi Penjemuran Sango-Sango

  • 16 Jul 2026 14:21 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Universitas Muslim Maros (UMMA) memperkenalkan inovasi pengolahan pascapanen rumput laut sango-sango (Gracilaria sp.) melalui metode penjemuran menggunakan kain paranet yang dipasang pada para-para di sepanjang pinggir tambak. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus mendongkrak pendapatan petani rumput laut di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mandiri pada 15 Juli 2026. Program merupakan kolaborasi dosen Universitas Hasanuddin dan Universitas Muslim Maros yang turut melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Hasanuddin.

Rumput laut sango-sango menjadi salah satu komoditas unggulan di kawasan pesisir Maros, khususnya Kecamatan Bontoa. Selain menjadi bahan baku industri agar-agar, komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir. Bahkan, budidaya rumput laut juga dinilai memiliki potensi mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, meski di sisi lain sangat rentan terhadap dampak perubahan cuaca ekstrem.

Ketua Tim PKM, Ummul Chair, menjelaskan bahwa salah satu persoalan utama yang dihadapi petani selama ini adalah rendahnya kualitas kebersihan rumput laut akibat metode penjemuran yang masih tradisional. Sebagian besar petani masih menjemur hasil panen langsung di atas jalan kampung atau kain paranet yang dibentangkan di permukaan tanah sehingga mudah tercampur pasir, tanah, dan berbagai kotoran lainnya.

"Kondisi tersebut menyebabkan mutu sango-sango menurun dan berdampak pada rendahnya harga jual di tingkat petani. Karena itu, tim PKM memperkenalkan sistem penjemuran menggunakan para-para berbahan kain paranet yang dipasang lebih tinggi dari permukaan tanah sehingga hasil panen tidak bersentuhan langsung dengan tanah" ujar Ummul Chair,.

Dalam kegiatan tersebut, para petani diberikan pelatihan mulai dari teknik pemasangan para-para hingga manajemen penjemuran yang tepat. Metode ini dinilai mampu menghasilkan proses pengeringan yang lebih merata sekaligus menjaga kualitas rumput laut setelah panen.

Tim PKM yang terdiri atas Ummul Chair dari Universitas Muslim Maros bersama Anie Asriany dan Andi Muhammad Anshar dari Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa penggunaan para-para memiliki sejumlah keunggulan. Selain menghasilkan rumput laut yang lebih bersih karena tidak terkontaminasi tanah, metode tersebut juga mampu mengurangi risiko jamur dan pembusukan, mempertahankan warna alami rumput laut, meningkatkan mutu dan nilai jual produk, serta mempermudah petani saat membalik maupun mengumpulkan hasil penjemuran.

"Pendekatan ini dinilai menjadi solusi sederhana namun efektif untuk meningkatkan daya saing produk rumput laut Maros di pasar, terutama karena kualitas pascapanen menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan harga", urainya.

Kepala Desa Ampekale, Fuad Latif, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap teknologi sederhana yang diperkenalkan dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat sehingga kualitas sango-sango produksi Desa Ampekale semakin meningkat.

Fuad juga berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat tidak berhenti pada satu kegiatan saja. "Pembinaan yang berkelanjutan akan membantu petani mengembangkan teknik budidaya maupun pengolahan pascapanen sehingga kesejahteraan masyarakat pesisir dapat terus meningkat" tuturnya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat, inovasi penjemuran menggunakan kain paranet diharapkan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas komoditas unggulan pesisir Maros sekaligus memperkuat daya saing rumput laut sango-sango di pasar yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....