Pemkot dan RAPPO Indonesia Perkuat Kolaborasi Wujudkan Makassar Bersih

  • 13 Mei 2026 19:55 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan optimismenya terhadap kolaborasi pemberdayaan masyarakat yang digagas Komunitas Berdaya Nusantara bersama RAPPO Indonesia dalam mendukung pengelolaan sampah dan pemberdayaan perempuan di Kota Makassar. Hal tersebut disampaikan Munafri saat menghadiri Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan di Kantor Lurah Pannampu, Kecamatan Tallo, Rabu 13 Mei 2026.

“Hari ini saya merasa bangga dan optimis. Kehadiran Komunitas Berdaya Nusantara yang menggandeng RAPPO Indonesia bukan sekadar acara seremonial biasa,” ujar Munafri.

“Ini adalah langkah nyata dari apa yang selalu kita cita-citakan bersama, yakni Makassar yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan,” sambungnya.

Munafri menegaskan Pemerintah Kota Makassar ingin memastikan perempuan tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi juga menjadi aktor utama melalui berbagai program pemberdayaan dan peningkatan keterampilan ekonomi kreatif. Ia juga menyoroti persoalan sampah plastik yang menjadi tantangan global. Menurutnya, kreativitas masyarakat bersama RAPPO Indonesia mampu mengubah limbah plastik menjadi produk fesyen ramah lingkungan bernilai ekonomi tinggi.

“Masalah sampah plastik adalah tantangan global. Namun di tangan ibu-ibu kita, limbah yang tadinya tidak bernilai diubah menjadi produk fesyen kelas dunia yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Munafri menilai keterlibatan sektor swasta menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota, termasuk pengelolaan sampah. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan dunia usaha.

Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan Kota Makassar memproduksi sekitar 800 ton sampah setiap hari. Namun kapasitas pengangkutan saat ini baru mencapai sekitar 67 persen, sehingga masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani secara maksimal.

Ia juga menekankan pentingnya pembenahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini masih menggunakan sistem open dumping. Pemerintah Kota Makassar saat ini tengah berproses mengubah sistem tersebut menjadi sanitary landfill sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Ke depan, sampah yang masuk ke TPA bukan lagi sampah rumah tangga secara langsung, melainkan residu dari hasil pengolahan,” tuturnya.

Selain itu, Pemkot Makassar juga tengah menyiapkan proyek strategis berupa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) atau waste to energy dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek tersebut ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 20 hingga 25 megawatt.

“Ini menjadi sesuatu yang harus kita respons bersama. Tanpa kesiapan pemerintah kota, investasi ini tidak akan maksimal. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan,” katanya.

Munafri juga mendorong penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah organik dan anorganik di tingkat masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan konsep teba modern, yakni metode pengolahan sampah organik dengan sistem lubang kompos yang dapat dipanen dalam waktu lima hingga enam bulan.

“Pupuk kompos ini kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk bertani di lahan-lahan sempit, sehingga setiap sudut kota yang tidak terpakai bisa menjadi produktif,” ungkapnya.

Selain itu, program budidaya maggot juga terus dikembangkan sebagai solusi pengolahan sampah organik. Menurut Munafri, satu kilogram maggot mampu mengolah hingga lima kilogram sampah sekaligus memiliki nilai ekonomis sebagai pakan ternak.

Program Nusantara Infrastructure bersama RAPPO Indonesia sendiri dimulai dari edukasi pemilahan sampah rumah tangga. Sampah terpilah kemudian disetorkan ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara untuk dikelola lebih lanjut.

Sampah plastik bernilai seperti HDPE, PP, dan LDPE selanjutnya diproses oleh RAPPO Indonesia menjadi produk daur ulang bernilai jual. Program ini juga melibatkan perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia dalam proses pembersihan dan pencacahan plastik sehingga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Hasil produk daur ulang tersebut kini telah dipasarkan hingga ke Makassar, Jakarta, dan Bali sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. “Kami berharap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat terus diperluas demi menciptakan Kota Makassar yang lebih bersih,” tutup Munafri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....