Teater sebagai Media Kesadaran Disabilitas Mental

  • 11 Mei 2026 15:17 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Teater sebagai Media Kesadaran Disabilitas Mental. Demikian disampaikan Syahrini Andriyani, seorang Aktor, Sutradara, dan Penulis Naskah yang telah menggelar Pertunjukan Teater Disabilitas Tiga Kota lewat Dialoig Interaktif Ruang Disabilitas, Sabtu, 09 Mei 2026.

Karya teater bertajuk Perjalanan Introspektif hadir sebagai medium refleksi bagi masyarakat mengenai realitas disabilitas mental. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah katalisator untuk mencapai kesadaran diri yang lebih tinggi dan kebahagiaan. Melalui panggung, para seniman mencoba membedah bagaimana kondisi emosional mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani hidup sehari-hari.

“Nah, perjalanan introspektif ini adalah perjalanan diri dalam menghadapi kenyataan untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi dan menjadi sebuah katalisator untuk memulai perjalanan dalam mencapai kebahagiaan,” kata Syahrini Andriyani kepada RRI.

Pertunjukan ini dirancang secara berkesinambungan melalui tiga babak yang dipentaskan di lokasi berbeda, yakni Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, dan Kota Makassar. Pemilihan lokasi ini bertujuan agar para aktor dapat merasakan suasana panggung di berbagai kota budaya yang berbeda. Hal ini diharapkan mampu memperluas jangkauan audiens serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni disabilitas.

“Pertunjukan ini disajikan dalam tiga babak yang saling terkait, Mbak., Jadi ada tiga babak, tiga pertunjukan untuk di tiga kota, Babak pertama itu pertunjukannya di Kabupaten Maros, Kemudian kita bergeser ke Kabupaten Gowa dan Terakhir di Kota Makassar,” katanya kepada RRI.

Setiap babak di tiap kota membawa pesan yang mendalam mengenai perjalanan hidup dan kesehatan mental. Integrasi cerita antara Maros, Gowa, dan Makassar menciptakan satu narasi utuh yang menggugah empati penonton. Penonton diajak untuk melihat bagaimana lingkungan yang berbeda memberikan resonansi yang unik terhadap pesan yang disampaikan oleh para aktor.

Latar belakang program ini berakar pada keinginan untuk menciptakan wadah kreatif bagi penyandang disabilitas mental. Seringkali, kelompok ini menghadapi tantangan dalam menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari akibat kondisi emosional mereka. Melalui teater, hambatan tersebut coba disalurkan menjadi sebuah karya yang memiliki nilai estetika dan edukasi sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....