Seniman Disabilitas Butuh Panggung yang Berkelanjutan

  • 11 Mei 2026 14:30 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Seniman disabilitas membutuhkan panggung yang berkelanjutan sebagai wadah aktualisasi diri. Demikian disampaikan Syahrini Andriyani, seorang Aktor, Sutrada, dan Penulis Naskah yang telah menggelar Pertunjukan Teater Disabilitas Tiga Kota lewat Dialoig Interaktif Ruang Disabilitas, Sabtu, 09 Mei 2026.

Dikatakan, Panggung yang berkelanjutan sebagai wadah aktualisasi diri, Ruang untuk berlatih, berproduksi, hingga mendapatkan apresiasi dari publik menjadi kebutuhan mendesak bagi mereka. Tanpa ruang yang konsisten, bakat yang telah lahir dikhawatirkan akan meredup begitu saja.

“Namun kami sadar bahwa satu kali workshop dan satu kali pentas saja itu tidak cukup, seperti itu, Jadi pemberdayaan seniman disabilitas itu juga butuh proses panjang dan panggung yang berkelanjutan. Mereka butuh ruang untuk terus berlatih, berproduksi, dan diapresiasi gitu,” Katanya kepada RRI.

Syahrini Andriyani menjelaskan bahwa keberlanjutan merupakan fondasi utama dari lahirnya program tiga kota ini. Di Tahun 2026, mendapat kesempatan kembali dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui dana Indonesiana LPDP, Kesempatan ini pun akhirnya kami gunakan untuk menjadikan program teater disabilitas sebagai program keberlanjutan sejak 2023. Mengingat sejarahnya, program ini bermula dari sebuah workshop dan pertunjukan di Makassar pada tahun 2023 yang lalu. Keberhasilan masa lalu tersebut menjadi bukti bahwa potensi seniman disabilitas sangatlah besar.

“Jadi tahun 2026 ini kami mendapat kesempatan kembali dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui dana Indonesiana LPDP, Kesempatan ini pun akhirnya kami gunakan untuk menjadikan program teater disabilitas sebagai program keberlanjutan sejak 2023, Artinya ini bukan program yang lahir tiba-tiba gitu, melainkan kelanjutan dari proses yang kami sudah rintis tiga tahun yang lalu,” kata Syahrini kepada RRI.

Namun, disadari bahwa pemberdayaan tidak bisa dilakukan secara instan atau hanya sekali jalan. Satu kali workshop dan satu kali pementasan dirasa tidak cukup untuk mengasah bakat para aktor secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan proses panjang agar kemampuan mereka benar-benar matang dan profesional.

Lebih lanjut Syahrini Andriyani mengatakan Melalui keberlanjutan ini, diharapkan standar kualitas karya seni disabilitas di Indonesia semakin meningkat. Program ini menjadi bukti nyata bahwa seni tidak mengenal keterbatasan fisik selama ada konsistensi dan dukungan yang tepat. Perjalanan panjang ini pun diproyeksikan akan terus berlanjut di masa-masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....