Strategi Investasi di tengah Pelemahan Rupiah

  • 10 Mei 2026 13:38 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR – Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar melalui program Obrolan Khusus Investasi di Pro 4 kembali mengulas isu ekonomi terkini yang tengah menjadi perhatian publik. Pada edisi Minggu 10 Mei 2026), diskusi mengangkat tema krusial yakni "Strategi Investasi di Tengah Pelemahan Rupiah," guna memberikan edukasi finansial bagi masyarakat di tengah fluktuasi pasar global yang tidak menentu.

Menghadirkan narasumber ahli, Adrian Sayed, yang merupakan seorang ekonom sekaligus dosen dari The Indonesia Capital Market Institute (TICMI). Dalam pemaparannya, Adrian mengakui bahwa kondisi geopolitik dan ekonomi global saat ini memang memberikan tekanan hebat terhadap kelas aset domestik, mulai dari bursa saham, pasar uang, hingga pasar obligasi yang terdampak langsung oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Adrian Sayed, yang merupakan seorang ekonom sekaligus dosen dari The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Saat Menjadi Nara sumber Di Pro 4 RRI Makassar

Adrian menyoroti penurunan tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpangkas signifikan hingga 31 persen sejak awal tahun. "Bursa Efek Indonesia pada penutupan Jumat kemarin berada di level 6.900-an, padahal di awal tahun kita sempat menyentuh 9.100. Selain saham, indeks obligasi gabungan pemerintah dan korporasi (ICBI) juga sempat terperosok ke level 430-an pada akhir Maret dan awal Mei akibat dampak eskalasi konflik di Timur Tengah," jelasnya.

Meski terjadi penurunan harga aset, Adrian menegaskan bahwa instrumen seperti Reksa Dana Pendapatan Tetap yang berbasis obligasi masih sangat aman bagi investor jangka panjang. Hal ini dikarenakan obligasi memiliki mekanisme harga yang akan kembali ke nilai par atau 100 persen saat jatuh tempo. Selain itu, keamanan investasi ini terjamin karena dijamin oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bagi obligasi negara.

Ia justru melihat kondisi pasar saat ini sebagai peluang emas bagi investor untuk masuk karena banyaknya instrumen yang sedang "diskon". Menurut Adrian, membeli obligasi di bawah harga normal dapat memberikan keuntungan ganda atau double income. "Jika kita masuk sekarang di harga bawah 100, saat jatuh tempo kita tidak hanya mendapatkan kupon atau bunga tahunan, tapi juga selisih harga. Keuntungan yang biasanya 6 persen, bisa melonjak menjadi 7,5 hingga 8 persen," ungkap Adrian.

Beralih ke sektor saham, Adrian mengingatkan bahwa instrumen ini jauh lebih sensitif terhadap sentimen global, termasuk pernyataan tokoh-tokoh dunia yang seringkali memicu gejolak pasar secara instan. Meski demikian, strategi yang tepat adalah fokus pada saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat dan rutin membagikan dividen besar, seperti perbankan (Bank Mandiri, BRI) serta sektor energi (Adaro, BRP).

Menutup obrolan, Adrian menekankan pentingnya memilih aset yang mampu mengalahkan angka inflasi guna menjaga daya beli masyarakat. Dengan potensi dividen saham di angka 10 hingga 11 persen, nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan bunga deposito yang saat ini hanya berkisar di angka 2,5 sampai 3 persen. Dengan strategi yang tepat, pelemahan nilai tukar justru bisa menjadi momentum transformasi portofolio menjadi lebih menguntungkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....