Beri Kuliah Umum di Unhas, Yovie Widianto Bahas Kreativitas hingga AI

  • 23 Apr 2026 19:44 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Staf Khusus Presiden, Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto hadir di Universitas Hasanuddin untuk menjadi pembicara dalam kuliah umum di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Tamalanrea, Kamis, 23 April 2026. Kuliah umum ini mengangkat tema “Creative Generation: Turning Ideas, Culture, and Creativity into Global IP”

Dalam paparannya, Yovie menegaskan, ide lahir dari kepekaan membaca konteks, kedisiplinan dalam mengolah pengalaman, serta keberanian untuk mencoba hal baru. Dirinya menekankan, proses kreatif merupakan perjalanan panjang yang tidak dapat direduksi menjadi sekedar hasil instan.

“Inovasi tidak selalu harus spektakuler. Justru kemampuan berpikir adaptif, solutif, dan menghadirkan nilai tambah menjadi pondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” jelas Yovie.

Yovie juga mengangkat perspektif bahwa kreativitas merupakan cara paling relevan dalam merawat warisan budaya. Tradisi, menurutnya, tidak boleh dibekukan, melainkan perlu dihidupkan kembali melalui pendekatan kreatif yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Dalam konteks tersebut, inovasi berbasis akar budaya menjadi kunci. Yovie mengibaratkan proses ini seperti mengaransemen ulang karya lama menjadi bentuk baru yang lebih segar dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan budaya tetap hidup sekaligus memiliki daya saing global. “Teknologi kemudian hadir sebagai panggung baru bagi cerita budaya Indonesia. Melalui strategi branding, storytelling, dan distribusi digital, nilai-nilai lokal dapat melintasi batas geografis dan menjangkau pasar internasional,” tambah Yovie.

Namun demikian, Yovie tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan (AI). Dirinya mengisahkan fenomena di industri musik, di mana AI mampu menghasilkan karya hanya dalam hitungan menit, sebuah kondisi yang memicu refleksi mendalam tentang peran manusia dalam proses kreatif.

Fenomena tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga menyentuh aspek eksistensial. Banyak profesi kreatif mulai mempertanyakan makna dari perjalanan panjang yang selama ini mereka jalani, ketika mesin mampu menghasilkan output serupa dalam waktu singkat.

Dirinya menegaskan bahwa relasi antara manusia dan teknologi seharusnya bersifat kolaboratif. Kreativitas tetap menjadi domain utama manusia, sementara AI berfungsi sebagai mitra yang mempercepat proses tanpa menggantikan esensi penciptaan.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyampaikan, mahasiswa Unhas memiliki potensi kreativitas yang luar biasa, tidak hanya dalam menghasilkan karya, tetapi juga dalam menarasikan makna yang lebih indah dari setiap proses kreatif. “Mereka mampu menarasikan hal-hal yang lebih indah dalam setiap karya yang dihasilkan. Melalui kekompakan, Unhas siap berperan serta membangun bangsa. Dari Unhas, kita menavigasi dunia,” jelas Prof JJ.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....