Kelompok Tani Kelurahan Bulurokeng Merasa Terbantu Adanya Urban Farming

  • 22 Apr 2026 14:19 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Pemerintah Kota Makassar terus mendorong lahirnya inovasi berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui program Urban Farming, yang kini menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan perkotaan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Program unggulan Pemkot, kini dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2) Kota Makassar, dengan konsep pemanfaatan lahan sempit menjadi ruang produktif. Dimana, menyatukan pengelolaan sampah organik, pertanian, dan perikanan dalam satu ekosistem terpadu.

Di tingkat kelurahan sendiri, sudah dijalankan pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan urban farming seperti di Kelurahan Bulurokeng Kecamatan Biringkanayya. Ketua Kelompok Tani di Kelurahan Bulurokeng, Arman Zainuddin mengaku sangat terbantu dengan hadirnya urban farming di perkotaan karena selain menjaga kemandirian pangan warga juga mampu menekan pengeluaran rumah tangga.

"Alhamdulillah dengan adanya urban farming ini sangat membantu ketahanan pangan warga sekitar karena mereka tidak perlu lagi membeli sayur sayuran sehingga ini bisa menekan pengeluaran rumah tangga,"kata Arman, Rabu 22 April 2026.

Arman Zainuddin menyebut hasil panen sayur sayuran yang ditanam seperti cabai, kangkung, tomat, terong, sawi, kacang panjang dan beberapa macam sayuran lainnya, kini sudah menghasilkan uang. "Kalau dirupiahkan dari hasil urban farming kami selama ini sekitar Rp1.000.000 lah. Jadi tergantung hasil panen juga misalnya cabai sekali panen bisa mencapai 1 kg, kalau kangkung 5 sampai 10 kg,"bebernya.

Dikatakan hasil urban farming ini tidak hanya dijual tetapi juga di konsumsi dan ada pula yang dibagi ke warga sekitar. "Iya jadi kami biasa jual hasilnya tapi memang kalau mitra belum ada, jadi cuma orang per orang saja yang datang beli,"ungkapnya.

Arman Zainuddin berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi setiap kelompok tani yang ada di kelurahan agar lebih mudah mendapatkan mitra dan diharapkan pemerintah bisa menyosialisasikan tentang manfaat berkebun di lahan sempit agar menjadi hobi yang populer dan menghasilkan.

"Kendala kami adalah dari segi pemasaran, ketika kami ada produksi atau hasil panen kami tidak tahu mau dikemanakan ini hasilnya apalagi harga di pasar lebih murah di banding dengan harga kami karena sayuran yang kami hasilkan adalah sayuran organik,"keluhnya.

"Jadi saran kami mungkin bisa menyediakan fasilitas atau difasilitasi kemana harus kami jual produk kami,"pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....