Anyaman Penuh Filosofi, Songkok Recca Bone Jadi Ikon Budaya di MTQ Maros

  • 15 Apr 2026 17:11 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Keberagaman budaya lokal turut mewarnai perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros. Salah satu yang mencuri perhatian pengunjung adalah kerajinan tradisional Songkok Recca asal Bone yang dipamerkan dalam stan UMKM.

Songkok Recca merupakan penutup kepala khas masyarakat Bugis yang memiliki nilai budaya dan filosofi tinggi. Produk ini dibuat dari anyaman pelepah daun lontar yang dikenal dengan sebutan “recca”, kemudian dirangkai dengan ketelitian tinggi hingga membentuk songkok yang kokoh dan estetis.

Di area pameran, pengunjung tidak hanya melihat hasil jadi, tetapi juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya. Para pengrajin memperlihatkan teknik menganyam yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan, bahkan untuk satu songkok sederhana bisa memakan waktu hingga beberapa hari, sementara kualitas tinggi bisa berbulan-bulan.

Pelaksana Tugas Kantor Departemen Agama Kabupaten Maros Haji Muhammad Subhan menjelaskan bahwa Songkok Recca memiliki nilai historis yang kuat. Dahulu, songkok ini digunakan oleh kalangan bangsawan hingga raja-raja Bone dan menjadi simbol status sosial.

“Garis-garis pada songkok ini memiliki makna filosofi, menunjukkan strata atau tingkat kebangsawanan. Semakin halus dan tinggi bentuknya, semakin tinggi pula nilainya,” ujarnya. Rabu, 15 April 2026.

Selain digunakan dalam kehidupan sehari-hari, Songkok Recca juga kerap dipakai dalam upacara adat, seperti pernikahan dan prosesi tradisional Bugis. Dari sisi ekonomi, produk ini memiliki nilai jual yang bervariasi. Harga songkok mulai dari ratusan ribu rupiah untuk penggunaan sehari-hari, hingga jutaan rupiah tergantung kualitas dan bahan.

Bahkan, untuk bahan tertentu seperti kombinasi logam mulia, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tak hanya diminati pasar lokal, Songkok Recca juga telah menembus pasar internasional, seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini menunjukkan potensi besar UMKM lokal dalam mengangkat budaya daerah ke kancah global.

Menariknya, pelestarian kerajinan ini juga melibatkan generasi muda. Seorang pelajar yang turut menganyam songkok mengaku telah belajar sejak kecil dari orang tuanya dan merasa bangga bisa ikut menjaga warisan budaya. “Semoga ke depan semakin banyak anak muda yang mau belajar dan melestarikan kerajinan seperti ini,” ujar Nur Haera Sulfi Siswa Kelas VII MTs Syafaa'atul Qur'an Bone.

Kehadiran Songkok Recca di MTQ Maros tidak hanya menjadi ajang promosi budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM, sekaligus memperkuat identitas kearifan lokal Sulawesi Selatan di tengah modernisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....