Kopdes Merah Putih Bangun Kekuatan Ekonomi Desa

  • 04 Jun 2026 17:48 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR — Program Teras UMKM kembali hadir mengupas isu strategis seputar pemberdayaan ekonomi arus bawah pada Kamis 4 Juni 2026. Mengangkat tema "Kopdes Merah Putih; Peluang Atau Tantangan Terhadap Pelaku UMKM", diskusi ini membedah sejauh mana kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mampu menjadi stimulus bagi para pelaku usaha di tingkat desa, atau justru menjadi babak baru yang penuh dengan tantangan struktural.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Basri Basir MR, SE., M.Ak., M.Bns., C.Bc, yang merupakan Coach Practitioner UMKM sekaligus Ketua Inkubator Bisnis FEB Unismuh Makassar dan Fasilitator KDKMP Kementerian Koperasi RI. Dalam pemaparannya, Dr. Basri mengingatkan kembali filosofi mendasar dari koperasi yang digagas oleh para pendiri bangsa. Menurutnya, konsep koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional bukanlah hal baru, melainkan fondasi lama yang kini coba diaktualisasikan kembali lewat program Kopdes Merah Putih.

"Koperasi ini sebenarnya sejak dahulu sudah ada sejak Founding Father kita Bung Hatta menyampaikan bahwa koperasi adalah soko guru bagi perekonomian. Oleh karena itu, ketika kita bicara tentang Koperasi Desa Merah Putih, maka sebenarnya kita melihat peluang maupun tantangan yang ada di negara kita sendiri, sebab kalau kita lihat secara data, koperasi ini mampu membangun kekuatan ekonomi dari desa," ujar Dr. Basri.

Dr. Basri Basir MR, SE., M.Ak., M.Bns., C.Bc, Fasilitator KDKMP Kementerian Koperasi RI. Dalam Obrolan Teras UMKM Pro 4 RRI Makassar

Namun, di balik besarnya peluang untuk membangun kekuatan ekonomi dari desa, realita di lapangan menunjukkan bahwa para pelaku UMKM masih terjebak dalam lingkaran masalah yang klasik. Dr. Basri mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku usaha di pedesaan memiliki semangat juang yang tinggi dan menghasilkan produk-produk berkualitas lokal yang melimpah.

Sayangnya, potensi besar ini kerap terbentur oleh dinding tebal keterbatasan modal, minimnya akses pasar, serta rendahnya literasi digital. Berdasarkan pengalamannya sebagai pendamping dan coach UMKM, Dr. Basri menyoroti pentingnya diversifikasi jenis koperasi.

Selama ini, masyarakat desa cenderung hanya mengenal satu jenis koperasi konvensional, padahal ada banyak jenis lain seperti koperasi produksi yang justru sangat dibutuhkan untuk mengelola hasil bumi. Kurangnya pemahaman ini diperparah dengan ketidakmampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi, sehingga banyak produk lokal yang melimpah akhirnya terbuang sia-sia karena gagal dipasarkan.

"Pelaku UMKM itu sebenarnya masalahnya klasik, banyak saya temukan di lapangan itu misalnya kurangnya atau tidak bisa mengakses pasar secara lebih luas. Ada produk di desa itu melimpah, katakanlah mereka tanam kentang atau bawang, tetapi tidak bisa dipasarkan secara global. Ini terkait dengan keterbatasan modal, ketidaktahuan terhadap prasyarat mengakses permodalan, serta pentingnya digitalisasi dan pendampingan usaha secara berkelanjutan," lanjutnya.

Sebagai penutup, Dr. Basri mengapresiasi langkah pemerintah, khususnya melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), yang terus digenjot dalam membangun infrastruktur digital hingga ke pelosok. Sinergi antara infrastruktur digital yang memadai dengan kehadiran Kopdes Merah Putih diharapkan dapat memutus ketimpangan ekonomi antara kota dan desa.

Melalui penguatan payung hukum dan pendampingan yang intensif, program ini optimis dapat menciptakan pemerataan ekonomi sekaligus memperkokoh ketahanan ekonomi nasional dari pinggiran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....