Bijak Investasi di tengah Krisis Global, Ini Panduannya

  • 05 Apr 2026 23:57 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dua pakar keuangan menyampaikan panduan praktis bagi masyarakat dalam merencanakan investasi di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu konflik Timur Tengah. Panduan itu dibahas dalam dialog Ekonomi Digital RRI Pro 1 Makassar, Sabtu, 4 April 2026.

Adrian Sayed, Senior Lecturer The Indonesia Capital Market Institute, dan Dr. (Cand.) Ria Andriany, Pemimpin Departemen Corporate Banking dan Bisnis PT Bank Sulselbar, sepakat bahwa langkah pertama adalah tidak panik dan memahami kondisi keuangan pribadi sebelum memilih instrumen investasi apa pun.

“Walaupun kondisi global penuh ketidakpastian, jangan sampai hal ini membuat kita tidak bijak dalam mengambil keputusan keuangan,” ujar Ria Andriani sebagaimana dikutip dari siaran dialog Ekonomi Digital RRI Pro 1 Makassar.

Ria Andriany menekankan pentingnya mengenali money personality atau tipe kepribadian keuangan, yang terbagi menjadi empat, yaitu money avoiders, money vigilance, money status, dan money focus. Pengenalan tipe ini menjadi dasar untuk merancang perencanaan keuangan yang tepat, mulai dari mengelola arus kas hingga menentukan instrumen investasi yang sesuai profil risiko.

Ia juga menyebutkan tiga prinsip utama investasi yang perlu dipegang, yakni diversifikasi aset, orientasi jangka panjang, dan manajemen risiko yang disiplin. Masyarakat yang belum memahami pasar modal disarankan memulai dengan mengelola arus kas melalui beberapa rekening terpisah sesuai pos pengeluaran.

Dari sisi instrumen, Adrian Sayed menyarankan tiga pilihan utama yang relevan dalam kondisi saat ini. Pertama adalah logam mulia, terutama emas kepingan tiga hingga lima gram, yang harganya sedang terkoreksi namun diyakini akan kembali naik seiring mereda konflik Teluk. Kedua adalah saham blue chip perbankan yang kini diperdagangkan dengan diskon besar.

“Saat orang takut, kita harus berani. Beli perusahaan sehat di harga murah, simpan, dan nikmati dividennya. Itulah investasi, bukan spekulasi.” tegas Adrian

Pilihan ketiga adalah Surat Berharga Negara atau SBN yang menawarkan kupon 5,5 persen, masih lebih menarik dibandingkan deposito perbankan. Bagi yang masih ragu dengan kondisi pasar, keduanya merekomendasikan untuk menahan posisi cash dulu sambil memantau perkembangan ekonomi global.

Keduanya juga mengingatkan masyarakat agar menjauh dari judi daring yang kerap disamarkan sebagai investasi. Selain tidak menghasilkan aset nyata, aktivitas itu dinilai merusak kebiasaan keuangan dan berdampak negatif bagi keluarga.

“Kalau memang belum yakin, jangan dulu berinvestasi. Pegang cash, pantau situasi, dan masuk ketika tanda-tanda pemulihan sudah terlihat.” Saran Adrian dalam dialog tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....