Regenerasi Jadi Tantangan, Pemkot Madiun Genjot Minat Gen Z Tekuni Batik
- 03 Okt 2026 21:53 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun – Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk kembali menggairahkan pelestarian batik di Kota Madiun. Di tengah perkembangan batik yang terus berjalan, persoalan regenerasi perajin masih menjadi pekerjaan rumah.
Minat anak muda untuk terjun menjadi pembatik dinilai belum tinggi. Sebagian besar perajin batik di Kota Madiun saat ini bahkan berusia di atas 40 tahun.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnaker KUKM) Kota Madiun Anang Wibowo mengakui regenerasi pembatik bukan perkara mudah.
"Memang regenerasi itu perlu, pancen angel," ujarnya, kemarin.
Untuk menjaga keberlangsungan perajin batik, Disnaker KUKM berupaya meningkatkan keterampilan para pembatik. Salah satunya melalui pelatihan upgrade dan upskill membatik yang digelar bulan lalu.
Pelatihan tersebut terbuka bagi masyarakat yang telah memiliki dasar membatik maupun pelaku usaha batik. Sebanyak 30 pembatik mengikuti pelatihan selama tiga hari. Salah satu materi yang diberikan adalah peningkatan kemampuan membuat pola.
"Rata-rata usia pembatik di Kota Madiun di atas 40-an. Memang minat dari generasi muda masih dirasa kurang," ucap Anang.
Pemkot Madiun juga berupaya mengenalkan batik kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan kreatif. Salah satunya Teras Kriya yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Madiun.
Kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan batik. Anak-anak muda juga diajak mengenal berbagai kerajinan seperti menggambar, manik-manik, dan pernak-pernik.
Menurut Anang, pendekatan tersebut diperlukan untuk membuat batik lebih dekat dengan generasi muda, khususnya Gen Z.
"Tujuannya untuk menarik minat anak-anak muda, teman-teman Gen Z, mengetahui apa itu batik dan bagaimana cara membatik," ujarnya.
Anang menyebut membatik tidak sekadar keterampilan teknis. Proses tersebut membutuhkan kreativitas dan jiwa seni, mulai menuangkan ide ke dalam pola hingga menghasilkan sebuah karya batik.
Karena itu, dia mendorong agar kegiatan yang melibatkan pelajar dan generasi muda diperbanyak. Salah satunya melalui kompetisi menciptakan motif batik baru.
"Mungkin sering mengadakan kompetisi mulai tingkat sekolah untuk anak muda. Perlu kita tingkatkan. Cipta-cipta batik baru," terangnya.
Saat ini, terdapat sekitar 30 perajin batik yang aktif mengikuti kegiatan pembinaan Disnaker KUKM Kota Madiun. Dukungan pemerintah tidak berupa bantuan pendanaan langsung, melainkan pelatihan, pembinaan, fasilitasi pameran, serta tempat untuk memasarkan produk.
Hasil karya pembatik Kota Madiun juga dipasarkan melalui gedung dan toko Dekranasda, termasuk di kawasan Pahlawan Religi Center (PRC).
Tidak hanya soal perajin, pemerintah juga berupaya memperkuat identitas batik Kota Madiun. Sejumlah motif telah didaftarkan untuk memperoleh hak kekayaan intelektual (HKI).
"Setahu saya tujuh yang sudah didaftarkan. Tapi secara detail nanti bisa dicek lagi," tuturnya.
Sejumlah motif tersebut mengangkat potensi dan identitas lokal Kota Madiun. Di antaranya motif pecel dan kereta api.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disnaker KUKM Kota Madiun Angga Wahyu Nurcahyo mengatakan regenerasi pembatik membutuhkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
"Untuk regenerasi sebenarnya Dinas Naker tidak bisa bekerja sendiri. Makanya kita selalu menggandeng OPD-OPD terkait," tuturnya.
Salah satunya dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun. Instansi tersebut sebelumnya menggelar Madiun Batik Design Competition.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mengembangkan batik Kota Madiun.
Angga mengatakan pembagian peran antar-OPD dilakukan sesuai bidang masing-masing. Disnaker KUKM lebih berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia pembatik melalui pelatihan. Sementara Disporapara turut mendorong pengembangan kegiatan dan event untuk mengangkat batik Madiun.
"Pemkot ini kan terdiri dari beberapa OPD. Kita rutin bekerja sama dengan Disporapar. Kita lebih ke peningkatan kualitas SDM-nya, sedangkan event-nya nanti yang membantu mengangkat dari Disporapar," ujarnya.
Ke depan, kegiatan promosi dan kompetisi batik direncanakan mendapat dukungan anggaran lebih besar. Event tersebut diharapkan tidak hanya menyasar tingkat Kota Madiun, tetapi juga dapat berkembang ke tingkat Mataraman.
Di sisi lain, pembatik Kota Madiun juga mendapat dukungan dari Kementerian Ketenagakerjaan tahun ini. Bantuan tersebut berupa pengadaan meja untuk membuat pola batik.
"Jumlahnya sementara baru 10," tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....