Mengenal Decision Fatigue: Terlalu Banyak Pilihan Justru Membuat Mental Lemah

  • 03 Okt 2026 10:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, MADIUN – Pernah merasa lelah hanya karena harus menentukan mau makan apa, memakai baju yang mana, hingga memilih keputusan besar dalam hidup? Kondisi tersebut bukan sekadar rasa malas untuk memilih. Terlalu banyak keputusan yang harus dibuat dalam keseharian dapat membuat seseorang mengalami decision fatigue, yakni kondisi ketika proses mengambil keputusan terasa melelahkan secara mental.

“Wong tinggal milih saja, apa susahnya?” Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seseorang yang mengalami decision fatigue, justru proses memilih itulah yang dapat menjadi sumber kelelahan.

Hal tersebut disampaikan Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi UKWMS, saat menjadi narasumber dalam acara Teman Cerita PRO 1 RRI Madiun, Selasa 29 September 2026.

Robik menjelaskan, decision fatigue berkaitan dengan kondisi psikologis ketika seseorang merasa lelah karena harus terus-menerus membuat keputusan.

“Kadang-kadang kalau dalam kehidupan sehari-hari, hal yang menjadi asal muasal decision fatigue itu adalah hal yang sederhana. Misalnya, hari ini mau masak apa, mau makan apa, atau mau pakai baju yang bagaimana,” kata Robik.

Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat muncul dalam keputusan yang jauh lebih kompleks, seperti menentukan sekolah, memilih jurusan, hingga menentukan arah hidup. Setelah keputusan dibuat, seseorang bahkan dapat terus dihantui keraguan apakah pilihan yang diambil sudah benar atau belum.

“Decision fatigue itu lebih mengarah ke kondisi atau proses mental kita ketika kita mengambil keputusan dan akhirnya ketika kita mengambil keputusan tersebut dirasa sangat amat melelahkan,” jelasnya.

Robik menegaskan, decision fatigue bukan merupakan gangguan mental atau diagnosis psikologis. Namun, kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengalami kelelahan secara mental ketika berhadapan dengan berbagai pilihan.

Dampaknya, seseorang dapat menjadi semakin sulit menentukan pilihan. Dalam kondisi tertentu, seseorang justru bisa mengambil keputusan secara impulsif atau menyerahkan keputusan kepada orang lain.

“Akibatnya biasanya kita menjadi orang sulit mengambil pilihan atau menentukan pilihan atau keputusan. Terus impulsif, ‘ya sudahlah ambil ini’. Atau malah yang sering terjadi adalah kita menyerahkan keputusan tersebut kepada orang lain,” ungkapnya.

Salah satu hal yang berkaitan dengan decision fatigue adalah choice overload, yakni kondisi ketika banyaknya pilihan justru membuat proses menentukan keputusan menjadi semakin sulit.

Robik mencontohkan, ketika seseorang ingin membeli sebuah barang, puluhan pilihan dengan harga, fitur, dan keunggulan berbeda dapat membuat seseorang terus membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Bukannya semakin mudah memilih, seseorang justru bisa semakin bingung.

“Masalahnya bukan hanya karena pilihan terlalu banyak, tetapi sering kali karena kita belum tahu apa yang sebenarnya paling penting bagi kita,” jelas Robik.

Menurutnya, setiap keputusan juga mengandung ketidakpastian. Karena itu, keinginan untuk selalu mendapatkan pilihan yang sempurna justru dapat membuat seseorang semakin sulit mengambil keputusan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....