Inner Child: Jejak Luka Masa Kecil yang Diam-Diam Mempengaruhi Kita
- 25 Agt 2026 23:52 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Istilah inner child belakangan semakin sering muncul di media sosial. Ungkapan seperti “aku sedang healing inner child” atau “semua masalahku karena inner child” kerap digunakan untuk menjelaskan berbagai persoalan yang dialami seseorang saat dewasa.
Namun, apakah setiap masalah orang dewasa benar-benar berasal dari luka masa kecil? Dalam psikologi, inner child bukanlah organ atau bagian fisik dalam diri manusia.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan pengalaman emosional, kebutuhan, serta pola belajar yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan masih dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, maupun berperilaku ketika dewasa.
“Awalnya di FYP saya muncul istilah inner child. Ada yang mengatakan semua yang terjadi di masa dewasaku ini karena pernah terjadi di masa kecilku. Inner child menggambarkan sebuah pengalaman emosional, baik emosi positif ataupun emosi negatif. Lebih tepatnya, inner child ini sebagai representasi dari pengalaman masa kecil yang masih memiliki pengaruh terhadap cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku saat dewasa,” kata Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi UKWMS, saat menjadi narasumber acara Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (25/8/2026).
Menurut Robik, pengalaman masa kecil memang dapat memberikan pengaruh jangka panjang. Namun, bukan berarti seluruh persoalan yang dialami seseorang ketika dewasa secara otomatis disebabkan oleh pengalaman masa kecil.
Pengaruh tersebut cenderung lebih kuat ketika pengalaman yang kurang menyenangkan terjadi berulang kali, berlangsung dalam waktu lama, dan tidak disertai dukungan atau rasa aman yang memadai.
“Ketika kita mencoba mempelajari bagaimana proses trauma itu terwujud, pengalaman masa kecil memang bisa memberi pengaruh kepada kita, tapi tidak sepenuhnya benar. Pengalaman kita masa kecil itu bisa memberikan pengaruh jangka panjang, seperti pengalaman yang berlarut-larut dan berulang-ulang. Contohnya sering diabaikan, terlalu sering dikritik, mengalami kekerasan, atau kehilangan figur yang memberikan rasa aman,” jelas Robik.
Pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari memori emosional seseorang. Cara seseorang membangun rasa aman, mempercayai orang lain, merespon konflik, hingga menghadapi situasi tertentu dapat dipengaruhi oleh pembelajaran yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Meski demikian, memahami inner child bukan berarti menyalahkan orang tua, masa lalu, atau menjadikan pengalaman masa kecil sebagai satu-satunya penjelasan atas persoalan yang dihadapi saat ini. Kehidupan seseorang dibentuk oleh banyak faktor, termasuk lingkungan, hubungan sosial, pengalaman baru, serta kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.
Karena itu, proses memahami inner child lebih tepat dilihat sebagai upaya mengenali pengalaman dan kebutuhan emosional yang mungkin masih terbawa hingga dewasa. Dengan pemahaman tersebut, seseorang dapat belajar merespons situasi secara lebih sadar dan membuat pilihan yang lebih sehat.
Setiap orang membawa cerita masa kecilnya masing-masing. Ada cerita yang penuh kehangatan, tetapi ada pula pengalaman yang meninggalkan luka. Masa lalu memang menjadi bagian dari perjalanan hidup, namun bukan satu-satunya penentu masa depan.
Memahami inner child pada akhirnya bukan tentang terus hidup di masa lalu, melainkan memahami bagaimana masa lalu membentuk diri agar seseorang dapat menentukan langkah yang lebih sehat pada hari ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....