Minim Siswa, SDN Setono Ponorogo Ditutup

  • 21 Agt 2026 17:47 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Ponorogo — SDN Setono, di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, ditutup lantaran minimnya jumlah siswa. Kondisi tersebut terjadi setelah sekolah tersebut tidak mendapatkan siswa baru selama tiga tahun berturut-turut pada masa penerimaan peserta didik baru.

Minimnya jumlah peserta didik membuat keberlangsungan SDN Setono semakin sulit. Sejumlah siswa yang sebelumnya belajar di sekolah tersebut kemudian mengikuti proses regrouping atau penggabungan ke sekolah lain.

Siswa kelas 5, Dafa Putra mengakui jika SDN Setono telah tutup, sehingga ia beralih ke SDN Japan.

"Sekolahnya tutup karena muridnya sedikit akhirnya saya pindah ke SDN Japan, disini temannya banyak," katanya, kemarin.

Sementara itu Plt Lurah Setono, Handry Reza Pratama, mengatakan siswa SDN Setono, khususnya kelas 3, 4, dan 5, memilih bergabung ke SDN Singosaren dan SDN Japan, sedangkan kelas 1,2 dan 3 nihil. Proses tersebut diketahui mulai berlangsung sekitar Juli.

“Dari info guru ataupun yang mengetahui tentang SDN Setono, itu ada kelas 3, 4, 5 itu ke Singosaren sama ke SDN Japan untuk regrouping-nya. Itu dimulai sekitar bulan Juli,” kata Handry.

Menurut Handry, persoalan minimnya siswa juga berkaitan dengan pilihan orang tua. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat orang tua yang memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain karena jumlah siswa di SDN Setono dinilai tidak memadai.

“Kalau diterima nanti kasihan karena hanya ada satu orang atau dua anak. Akhirnya orang tua menghendaki untuk dipindah ke sekolah yang jumlah siswanya memadai,” ujarnya.

Handry mengatakan pihak Kelurahan Setono sebenarnya menyayangkan penutupan SDN Setono. Sebab, pihak kelurahan sebelumnya telah melakukan sejumlah upaya untuk mendorong warga agar menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

“Kalau dari kelurahan sih menyayangkan adanya penutupan SDN Setono karena kita juga sudah punya usaha-usaha untuk mengharapkan dari warga itu untuk menyekolahkan anaknya di SD,” jelasnya.

Selain persoalan jumlah siswa, lokasi sekolah yang berada di tepi jalan raya juga disebut menjadi salah satu pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah. Menurut Handry, meningkatnya intensitas kendaraan di jalan membuat sebagian orang tua khawatir terhadap keselamatan anak ketika harus menyeberang jalan.

“Sebenarnya kalau dari dulu memang di pinggir jalan sudah enggak ada masalah. Tapi mungkin intensitas yang sekarang, motor itu kan kendaraan banyak. Takutnya mungkin kalau mau menyeberang, anak-anak itu juga risiko,” ungkapnya.

Meski demikian, Handry menegaskan bahwa keputusan mengenai sekolah tempat anak menempuh pendidikan pada akhirnya berada di tangan masing-masing orang tua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....