Dampak Dinamika Geopolitik, Proyek Gedung Rawat Inap RSUD Kota Madiun Gagal Tender
- 30 Sep 2026 11:48 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun – Rencana pembangunan gedung rawat inap RSUD Kota Madiun kembali tertunda. Proyek yang direncanakan dikerjakan pada 2026 itu gagal dalam proses tender dan harus kembali menunggu hingga tahun depan.
Dinamika geopolitik global yang tidak menentu menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah peserta tender enggan mengambil proyek tersebut. Kondisi itu dinilai membuat harga material dan kebutuhan pembangunan sulit diprediksi.
Berdasarkan data LPSE, nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) proyek pembangunan gedung rawat inap tersebut mencapai Rp 13,1 miliar. Anggarannya bersumber dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Kota Madiun tahun anggaran 2026.
Direktur RSUD Kota Madiun dr. Muhamad Nur, M.M., Sp.OG., mengatakan, proses pengadaan proyek tersebut telah dilakukan melalui tender ulang. Minimnya peminat salah satunya dipengaruhi ketidakpastian kondisi global dan fluktuasi harga.
“Kalau kami melihatnya, itu kan akhirnya retender. Salah satunya karena di awal tidak banyak peminat. Kondisi global waktu itu, harga tidak menentu,” ujarnya.
Menurut Nur, nilai proyek yang ditawarkan disusun berdasarkan kondisi harga saat perencanaan. Sementara, kenaikan harga material maupun kebutuhan pembangunan setelahnya tidak serta-merta dapat diikuti dengan penambahan anggaran.
“Kita tidak memperhitungkan adanya lonjakan harga. Mungkin dengan adanya kenaikan harga itu, tidak banyak yang mau mengambil spekulasi karena ada aturan bahwa penambahan anggaran tidak serta-merta bisa dilakukan kalau ada perubahan harga,” jelasnya.
Pihak RSUD, lanjut Nur, memahami kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pihak ketiga yang hendak mengerjakan proyek. Karena itu, rumah sakit akan kembali memberikan kesempatan agar pembangunan dapat direalisasikan pada 2027.
“Kita memberikan ruang lagi untuk tahun depan. Insyaallah. Mohon doanya semoga bisa terealisasi, sehingga gedung itu bisa digunakan lebih cepat oleh masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, pembangunan gedung rawat inap baru tersebut juga harus menyesuaikan sejumlah ketentuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Standar pelayanan rawat inap kini mengatur sejumlah aspek, mulai dari fasilitas kamar mandi hingga pengaturan suhu dan ventilasi.
Nur mencontohkan, dalam standar tertentu, setiap empat tempat tidur atau maksimal enam tempat tidur harus tersedia kamar mandi. Ketentuan tersebut berdampak pada desain ruangan sekaligus kebutuhan biaya pembangunan.
“Sekarang aturan Kemenkes banyak. Misalnya, setiap empat tempat tidur atau maksimal enam harus ada kamar mandi. Itu otomatis akan mengubah kondisi ruangan di dalamnya, termasuk pembiayaannya,” ucapnya.
Selain itu, pengaturan suhu ruangan juga menjadi perhatian. Rumah sakit harus menyiapkan sistem ventilasi dan pendingin ruangan yang memenuhi standar pelayanan rawat inap.
“Misalnya suhu maksimal harus sekian. Artinya kami harus menyiapkan tata ventilasi dan AC-nya bagaimana. Ada standar-standar khusus yang diatur Kemenkes terkait perawatan rawat inap,” ucapnya.
Nur menegaskan, gedung baru tersebut bukan diperuntukkan khusus bagi pasien kelas VIP. Fasilitas itu justru dirancang untuk mendukung pelayanan kelas 1, 2, dan 3 dengan mengacu pada standar rawat inap yang ditetapkan pemerintah.
“Gedung baru ini bukan VIP. Saya malah untuk kelas 1, 2, dan 3. Sekarang aturan Kemenkes mengarah pada kelas rawat inap standar,” ungkapnya.
Menurut dia, konsep kelas rawat inap standar membuat seluruh kelas pelayanan harus memenuhi ketentuan fasilitas yang ditetapkan. Dengan demikian, standar pelayanan tidak hanya dinikmati pasien kelas tertentu.
“Artinya ada standar tertentu yang memang harus dipenuhi. Tidak boleh hanya dilakukan di, maaf tanda kutip, VIP. Tapi semua kelas, semua lapisan masyarakat harus bisa menikmati kelas rawat standar itu,” ujarnya.
Nur berharap pembangunan gedung rawat inap tersebut dapat kembali masuk proses pengadaan dan terealisasi pada 2027.
“Insyaallah, insyaallah, insyaallah bisa terealisasi. Sebenarnya kita selalu berproses dari awal. Cuma kondisi global, termasuk konflik di Timur Tengah, benar-benar membuat investor berpikir untuk maju atau tidak karena harga memang tidak menentu,” ucap dia. (adk)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....