Kejujuran Menjadi Fondasi Karakter Generasi Muda
- 30 Sep 2026 05:45 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Korupsi yang terjadi di berbagai lini kehidupan dinilai tidak muncul secara tiba-tiba. Perilaku tersebut dapat berakar dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele, termasuk ketidakjujuran sejak bangku sekolah.
Karena itu, kejujuran dinilai perlu ditanamkan sebagai fondasi karakter generasi muda sejak dini. Hal tersebut disampaikan Wenny Wijayanti, M.Pd., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKWMS Kampus Kota Madiun, saat menjadi narasumber dalam program Ngobras di Programa 1 RRI Madiun, Senin (28/9/2026).
Menurut Wenny, kejujuran bukan sekadar nilai yang diajarkan melalui teori, melainkan harus menjadi perilaku yang melekat dalam kehidupan setiap peserta didik, baik siswa maupun mahasiswa.
“Kalau kita melihat beberapa kasus pemberitaan di media sosial, di televisi, kasus-kasus korupsi itu kan banyak terjadi. Nah, korupsi terjadi karena apa? Dari tidak jujur. Maka jujur menjadi karakter utama dari seorang peserta didik,” ujar Wenny.
Ia menilai pembentukan karakter jujur perlu dimulai dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam keseharian peserta didik. Salah satunya adalah kebiasaan menyontek yang masih ditemukan di lingkungan pendidikan.
Bagi Wenny, menyontek tidak seharusnya dipandang sebagai pelanggaran kecil yang dapat dibiarkan. Jika dilakukan berulang dan tidak mendapatkan penanganan, kebiasaan tersebut dapat menjadi bibit perilaku tidak jujur yang terbawa ke tahap kehidupan berikutnya.
“Kebiasaan menyontek di kalangan peserta didik merupakan bibit dari perilaku tidak jujur. Sehingga dari awal kita bisa memberikan pengetahuan kepada peserta didik bahwa salah satu perilaku tidak jujur yang paling sering dilakukan oleh murid-murid adalah menyontek,” jelasnya.
Karena itu, pembiasaan perilaku jujur menurutnya harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika peserta didik menghadapi ujian atau berada dalam pengawasan guru. Nilai kejujuran perlu hadir dalam berbagai aktivitas pendidikan, sehingga peserta didik terbiasa bertanggung jawab terhadap proses maupun hasil yang mereka capai.
Dengan demikian, karakter yang dibangun sejak bangku sekolah diharapkan dapat menjadi bagian dari perilaku mereka ketika memasuki kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Wenny menegaskan, pendidikan karakter pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai pencapaian akademik.
Lebih jauh, pendidikan juga memiliki peran dalam membentuk pribadi yang memiliki integritas dan mampu mempertanggungjawabkan setiap tindakan. Sebab, bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan. Cara seseorang menggunakan bahasa juga menunjukkan bagaimana ia menghargai orang lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....