Belajar Menulis dengan Cara Membaca, Kunci Melahirkan Tulisan yang Memikat

  • 15 Sep 2026 09:15 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah maraknya arus tulisan cepat di media sosial dan meningkatnya gairah masyarakat untuk menjadi pembuat konten (content creator), kemampuan menulis menjadi salah satu keterampilan yang banyak diminati. Namun, keinginan menghasilkan tulisan yang memikat sering kali tidak diiringi dengan kebiasaan membaca.

Kristophorus Divinanto Adi Yudono, M.Pd., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKWMS Kampus Kota Madiun mengatakan, membaca dan menulis merupakan dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam ekosistem literasi. Membaca menjadi proses menyerap berbagai informasi, gagasan, dan gaya bahasa, sedangkan menulis merupakan proses mengolah kembali apa yang telah diserap tersebut menjadi sebuah karya.

Menurut Kris, belajar menulis tidak selalu harus dimulai dengan mempelajari cara mengetik atau pola-pola kalimat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membaca tulisan yang telah dihasilkan orang lain.

“Nah, jadi sebenarnya konsepnya adalah kita belajar menulis bukan soal cara mengetik, pola kalimat. Kali ini bukan dengan cara itu, tapi dengan cara kita membaca kalimat-kalimat yang diproduksi oleh orang lain. Seperti itu,” ujar Kris, saat menjadi narasumber dalam acara Ngobras di PRO 1 RRI Madiun, Senin (7/9/2026).

Ia menjelaskan, membaca berbagai jenis tulisan dapat membantu seseorang memahami bagaimana sebuah gagasan disampaikan, bagaimana kalimat dibangun, serta bagaimana seorang penulis menciptakan gaya dalam tulisannya. Untuk memulai kebiasaan menulis, Kris menyarankan agar seseorang memilih bacaan yang mampu menumbuhkan keinginan untuk ikut menulis.

“Untuk memulai kegiatan menulis, tipsnya pilihlah bacaan yang ketika Anda membaca, Anda berpikir, saya bisa menulis seperti ini,” katanya.

Menurutnya, rasa senang terhadap bacaan menjadi salah satu kunci penting dalam proses belajar menulis. Seseorang akan lebih mudah mengembangkan kemampuan menulis ketika telah menemukan bacaan yang benar-benar disukainya.

“Nah, jadi kita harus menemukan buku atau bacaan yang membuat kita senang dulu. Kuncinya disenangi. Karena ketika senang itu sudah muncul, saya rasa akan lebih mudah kita nanti dalam proses belajar,” tambah Kris.

Lebih lanjut, Kris mengatakan setiap orang dapat mempelajari dan mengadaptasi gaya penulisan dari penulis yang dikaguminya. Namun, proses tersebut harus dilakukan tanpa melakukan plagiarisme.

Menurutnya, hal terpenting adalah adanya kesadaran bahwa belajar dari gaya penulis lain bukan berarti sekadar meniru karya mereka. Seorang penulis tetap harus memiliki visi dan tujuan sendiri dalam menghasilkan tulisan.

“Pertama kita perlu sadar bahwa kita bukan meniru tulisan orang itu. Perlu ada kesadaran itu. Karena kadang penulis-penulis muda seperti saya itu kadang menulis itu punya visi, saya pengin nulis kayak beliau. Nah, itu nanti jadinya kayak meniru. Selain kita mulai dari kesadaran, yang kedua adalah ketekunan,” jelasnya.

Dengan demikian, kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi siapa pun yang ingin belajar menulis. Semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula referensi bahasa, sudut pandang, dan cara menyampaikan gagasan yang dapat dipelajari.

Di tengah derasnya produksi konten di media sosial, kemampuan menulis yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat seseorang menghasilkan tulisan, tetapi juga seberapa kaya bahan bacaan yang menjadi bekalnya. Membaca menjadi langkah awal untuk kemudian melahirkan tulisan yang memiliki kedalaman, karakter, dan visi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....