Mengatasi Gangguan Motorik pada Anak Autis Perlu Dilatih sejak Dini
- 23 Agt 2026 19:32 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Gangguan motorik menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pendampingan anak dengan autisme. Sebelum berfokus pada aspek perilaku maupun kemampuan berbicara, kemampuan motorik anak perlu dibenahi agar dapat menunjang aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.
Hal tersebut disampaikan Arif Budhi Santoso, Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (22/8/2026).
“Jadi kalau anak itu mengalami gangguan motorik yang dibenahi itu bukan aspek perilakunya dulu atau aspek bicaranya, tapi aspek gerak motoriknya dulu. Bagaimana dia bisa berjalan dengan bagus, bagaimana dia bisa duduk dengan tenang, bagaimana dia bisa memegang pulpen dengan baik,” ujar Arif.
Menurutnya, kemampuan motorik juga berkaitan erat dengan kemandirian anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Karena itu, anak perlu dilatih secara bertahap dan tidak selalu dibantu dalam setiap kegiatan.
“Harus mulai belajar makan. Nah, kalau selalu dibantu, nanti selamanya juga enggak bisa menuang atau menyendok nasi, menyendok makanan. Makan minum juga sering tumpah, gelasnya sering jatuh dan sebagainya. Menulis pun seperti itu. Nah, harus dilatih, harus dikondisikan,” tuturnya.
Arif menjelaskan, penanganan gangguan motorik kasar dapat dilakukan melalui fisioterapi. Terapi tersebut antara lain berfokus pada kekuatan dan gerakan otot, khususnya pada bagian kaki.
“Kalau gangguan motorik kasar, misalkan kakinya, fisioterapi. Fisioterapi melihat otot kaki, bagaimana kakinya diangkat, digerakkan, mengayuh sepeda statis. Kemudian mendorong kaki menggunakan alat seperti di gym dengan beban tertentu untuk melatih kekuatan otot. Ini pun tetap dilakukan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, yaitu autisme,” jelasnya.
Sementara itu, gangguan motorik halus dapat ditangani melalui okupasi terapi dengan memanfaatkan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah latihan mengancingkan baju.
“Motorik halus lebih ke okupasi terapi, misalnya melatih motorik halus memakai aktivitas keseharian, misalkan kancing baju. Kalau tidak ada koordinasi, ini masuknya ke mana, terus habis itu diputar ke mana. Simpel, kan, tapi untuk anak dengan kebutuhan khusus itu sulit,” kata Arif.
Selain terapi, olahraga terstruktur juga dinilai dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik anak dengan autisme. Aktivitas seperti berenang, bela diri dasar, maupun trampolin dapat digunakan sebagai bagian dari latihan.
Menurut Arif, kegiatan tersebut dilakukan secara teratur untuk membantu anak melatih kesadaran terhadap ruang sekaligus meningkatkan fleksibilitas tubuh.
Dengan latihan yang konsisten, terarah, dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak, gangguan motorik diharapkan dapat ditangani secara bertahap. Kemampuan tersebut selanjutnya dapat menjadi bekal bagi anak untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....