Penyebab Emotional Exhaustion dan Cara Mengatasinya
- 05 Sep 2026 10:13 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Kelelahan emosional atau emotional exhaustion dapat dialami seseorang ketika tekanan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari terus berulang dan tidak terselesaikan. Kondisi tersebut tidak selalu dipicu oleh persoalan besar, tetapi bisa berasal dari berbagai tekanan kecil yang terakumulasi dalam waktu lama.
Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi UKWMS, menjelaskan bahwa emotional exhaustion umumnya muncul akibat akumulasi berbagai tekanan yang terjadi berulang kali.
“Emotional exhaustion itu biasanya muncul karena ada akumulasi hal kecil, tekanan kecil yang berulang kali muncul dan terus akhirnya tidak terselesaikan. Kemudian diulang lagi, diulangi lagi, terus akhirnya numpuk,” ujar Robik.
Menurutnya, berbagai tekanan tersebut dapat berasal dari tuntutan pekerjaan, tekanan ekonomi, hingga persoalan dalam hubungan interpersonal. Konflik dengan keluarga maupun pasangan juga dapat menjadi salah satu sumber tekanan apabila terjadi secara terus-menerus.
“Mungkin tekanan ekonomi juga, konflik dengan keluarga ataupun dengan pasangan semacam itu bisa muncul. Jadi penyebabnya sebenarnya bukan karena suatu konflik besar, tetapi dari akumulasi tekanan-tekanan kecil yang terus-menerus berulang kali dan itu menumpuk-menumpuk,” tambahnya.
Untuk mengatasi emotional exhaustion, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari kondisi diri. Menurut Robik, seseorang perlu mengakui bahwa dirinya sedang mengalami kelelahan dan tidak memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat.
“Sebenarnya langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah kita sadar dulu bahwa kita memang sedang capek. Kita sadar dulu kalau seumpama kita tampak selalu ingin kuat, strong terus, pokoknya harus tahan terus, kita akan membohongi diri kita dan akhirnya akan mengalami kelelahan emosional ini secara berkepanjangan. Malah justru bisa mengarah ke depresi,” kata Robik.
Kesadaran tersebut menjadi penting agar seseorang dapat mulai mengenali kondisi dirinya dan tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan yang muncul. Setelah menyadari bahwa dirinya sedang lelah, seseorang perlu mengetahui sumber utama dari kelelahan tersebut. Dengan mengetahui penyebabnya, beban yang menjadi pemicu dapat mulai dikurangi.
“Selanjutnya kita harus tahu sumber kelelahannya, terus akhirnya kita bisa kurangi. Oh, ternyata sumber lelahku ini karena ada banyak pekerjaan yang menumpuk. Jadi, kita kurangi bebannya. Setelah kurangi bebannya, kembalikan ke ritme dasar tubuhnya,” jelas Robik.
Menurutnya, setelah beban mulai dikurangi, seseorang juga perlu mengembalikan tubuh pada ritme dasar yang lebih sehat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan waktu istirahat dan memenuhi kebutuhan dasar tubuh.
Upaya untuk mengatasi emotional exhaustion dapat dimulai secara mandiri dengan mengenali kondisi diri, mencari sumber tekanan, serta mengurangi beban yang dapat dikendalikan. Namun, apabila kelelahan emosional mulai mengganggu aktivitas dan fungsi sehari-hari, bantuan profesional diperlukan.
Robik menyarankan seseorang untuk berkonsultasi dengan psikolog apabila kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi sehari-hari, termasuk performa dalam pekerjaan.Dengan mengenali tanda-tanda kelelahan emosional sejak dini dan mengambil langkah untuk mengatasinya, seseorang dapat mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Yang terpenting, merasa lelah bukan berarti seseorang gagal atau tidak cukup kuat. Mengakui kelelahan merupakan salah satu langkah awal untuk memulihkan diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....